Friday, 7 December 2018

Kehidupan yang Jenuh

Mungkin kalian sekarang sedang jenuh. Jenuh dengan kegiatan yang sedang dilakukan. Kuliah, kerja, atau mungkin sibuknya rumah tangga. Seolah-olah kejenuhan itu menelan semua motivasi yang kita miliki. Hingga kita merasa kosong, tanpa ada tujuan dan arah.

Motivasi yang dulu diteriakkan lantang-lantang kini mulai lenyap, tak ada suaranya lagi-senyap. Bahkan bekas kehangatannya pun sirna. Seperti mata yang telah kehilangan cahayanya.

Malas. Adalah kata yang pas untuk menggambarkan diri kita yang sekarang. Tiada pencapaian, hanya ada rasa bosan, yang hari demi hari menambah beban.

Kita sudah berusaha semaksimal mungkin untuk terus produkti, melakukan ini, melakukan itu. Semua itu sudah kita lakukan. Tapi, diri ini masih terasa kosong. Seperti sebuah gelas yang dipisah dari pancuran.

Mungkin ada satu cara lagi yang harus kita lakukan. Tapi bukan dengan cara melakukan ini dan itu. Berbicara ini itu. Berdiskusi ini itu. Bukan itu.

Yang kita butuhkan adalah merenung. Kita kembalikan diri kita kepada diri kita yang sebenarnya. Bukan diri yang haus akan prestasi. Bukan diri yang penuh arogansi. Bukan juga diri yang penuh ambisi. Tapi kembali ke jati diri.

Boleh kita berprestasi, tapi kita harus berpikir kembali untuk apa kita berprestasi. Untuk siapa? Untuk apa? Apa manfaatnya? Apakah itu mendatangkan kebaikan? Atau malah membawa keburukan? Apakah kita melakukannya untuk orang lain? Atau hanya pemuas diri? Segalanya harus dipikirkan, yang mana pikiran itulah yang akan menjadi landasan tindakan. Kemudian melahirkan niat. Dan niat itulah yang akan dipandang oleh Sang Kholik.

Kebosanan itu datang untuk mengingatkan kita, sebenarnya apa yang kita tuju? Sebenarnya tindakan yang selama ini kita lakukan, apakah membawa kebaikan?

Kekosongan yang kita rasakan itu adalah bentuk kasih sayang Sang Pencipta, Pencipta Alam Semesta, Allah Subhanahu Wata’ala. Agar kita kembali kepada-Nya. Kembali merasa butuh. Kembali merasa bukan siapa-siapa kecuali hamba-Nya yang penuh dosa.

Berpikir, berpikir dan berpikir.

Itulah yang harus kita lakukan. Kembali berpikir, merenung, dan mengingat hakikat dari diri ini.

Siapa kita?

Itulah pertanyaan untuk memulai perenungan itu.

Maka jawablah, bukan siapa-siapa kecuali hamba-Nya.

Kehidupan yang Jenuh

Thursday, 31 May 2018

Gaji sebagai Tujuan Utama? No Problem

Aku terkadang kurang paham. Mengapa dia mengatakan bahwa pada saat aku tidak mengharapkan gaji. Maka ia boleh mengambilnya. Coba pikir, jika kamu diberikan Allah rizqi yang tidak kamu harapakan, apakah itu berarti rizqi tersebut boleh diambil orang lain, padahal itu hakmu? Apakah niat tidak menginginkan gaji akan terhapus jika ternyata pada saat turun gaji kita mengambilnya, padahal itu hak kita.

Jadi, saat ia mengatakan “berarti aku boleh mengambilnya?”pada saat itu aku menolak bukan karena oh itu gajiku, atas kerja kerasku. Tapi aku merasa apa yang ia katakan salah. Pendapat yang dia utarakan ada yang cacat. Jadi aku menolaknya.

gaji

Karena gaji adalah hak. Itu sama halnya dengan bernafas. Kita bahkan tidak sadar telah melakukan nafas, paru-paru kita, otot-otot kita, alveoli kita berusaha untuk mendapatkan udara, pada saat kita tidak sadar melakukannya, tidak sadar bahwa kita tidak mengharapkannya. Apakah itu berarti kita tidak boleh mendapatkannya. Apakah itu berarti orang lain boleh mengambil nafas kita? karena kita secara tidak sadar tidak mengharapkannya. Jawabannya TIDAK. Karena ada sesuatu yang lebih penting dari pada itu, yaitu aktivitas yang membutuhkan kemampuan berpikir. Ada sesuatu yang lebih penting dari pada tujuan “gaji”, dan setiap orang berhak memilikinya sebagai tujuan.

Pembelaan yang dia lakukan hanya memojokkan lawan bicara seolah-olah lawan bicara memiliki niat utama gaji. Padahal tidak, kalimat yang diajukan adalah tipe pertanyaan tertutup. Yaitu suatu pertanyaan yang hanya membutuhkan satu jawaban tanpa alasan. Tanpa tahu apakah jawaban itu masih berhubungan dengan aspek-aspek yang lain. Jadi tipe pertanyaan itu tidak banyak menggali informasi. Pertanyaan itu hanya akan memeberikan satu jawaban, yang kemudian dia mengolah jawaban itu dengan ditambahi sudut pandang yang menguntungkan dirinya.

Lalu mengapa dia menjudge orang-orang seolah-olah tujuan utama mereka adalah “gaji”? aku tidak tahu. Mungkin dia memiliki pengalaman dipojokkan seseorang dengan pertanyaan yang sama.

Tidak salah menjadikan gaji sebagai tujuan. Tapi perlu diingat, GAJI itu AKIBAT dari apa yang kita kerjakan. Jadi jika kita tidak menjadikan itu sebagai tujuan, gaji itu tetap hak kita, karena itu adalah buah dari pekerjaan kita. Mau diberikan orang lain atau disimpan sendiri, itu terserah kita.

Wednesday, 16 May 2018

Wedding Nyata : Upgrading BEM di Pacet

Malam, ketika udara dingin mulai turun. Kepulan asap putih keluar dari kedua bibir mahasiswa yang sedang berkumpul mengelilingi api unggun. Dingin menyergap tubuh-tubuh mereka. Tapi, terlihat wajah bahagia menghiasi wajah mereka.

Api unggun mulai menyala kuat, hangatnya menyentuh kulit-kulit kami. Sejenak memerahkan kulit kami yang pucat. Menemani kami dalam pelaksanaan pentas seni. MeNYALAKAN NYALI kami.

Ini adalah malam pertamaku, pertama kali aku mengikuti malam keakraban. Aku memang tidak pernah mengikuti acara berbau upgrading atau apapun itu. Karena memang kenyataannya aku tidak pernah mengikuti organisasi.

Inilah organisasi pertamaku, jika OSIS waktu MTs tidak dihitung.

Kami menginap di Villa Cahaya, lebih tepatnya di Pacet, Kota Mojokerto. Sebuah kawasan hijau, dimana mata memandang adalah pepohonan dan pegunungan.


IMG_20180512_094159

Tidak akan kau temui rasa pengap disini. Tanah ini masih segar, sesegar bayam yang baru dipetik dari pegunungan. Perhatikan warnanya, maka kau akan melihat Pacet dari warnanya. Rasakan batangnya di genggaman tanganmu, maka kau akan merasakan segarnya udara disana.

IMG_20180512_052445_HHT

Kami melaksanakan kegiatan upgrading selama 3 hari 2 malam. Berangkat sekitar pukul 7.00 malam. Diangkut dengan jisang. Getaran adalah sebuah irama yang kami rasakan saat menaiki kendaraan ini. Jika kendaraan ini berhenti, maka rasakanlah sensai getaran yang lebih kuat lagi, tak lupa dengan kebisingannya.

Sekitar pukul 10.00 malam, kami sampai di Villa Cahaya. Tanpa menunggu lagi, kami pun langsung istirahat. Yah, meski sebelumnya ada pembagian kamar untuk mahasiswi (mahasiswa mah bebas).

Kegiatan di hari kedua adalah raker. Kegiatan ini dimulai sejak pukul 9.00 pagi. Kegiatan ini adalah hasil dari pra-raker 1 dan pra-raker 2 yang dilaksanakan di Universitas Airlangga. Raker ini adalah kegiatan pengesahan proker-proker yang sudah disusun oleh masing-masing kementrian dan juga BPO/BO. Maka dari itu kami juga mengundang mereka di acara raker ini.

Setelah melewati masa-masa sulit; berdebat, berargumen, mengalah, dan memutuskan. Acara raker berakhir pada pukul 09.00 malam.

Dilanjut dengan acara pentas seni yang akan ditampilkan oleh masing-masing kementrian. Beragam sekali seni yang ditampilkan, ada yang humor, serius, sedih, kepahlawanan dan masih banyak lagi. Nyala api unggun pun menemani.

Acara itu berakhir dengan menyanyikan lagu mahasiswa, Totalitas Perjuangan. Dinyanyikan bersama-sama sambil bergandengan tangan. Sinergi merekatkan kami. Api unggun yang telah mengarang pun ikut membuat kami semakin merapat, karena dinginnya malam pun kembali mengerat.

Inilah sebuah momen yang akan menjadi memori. Sebuah memori bahagia yang tidak akan kami lupakan, akan kami simpan. Sebuah momen yang menyatukan, saling menguatkan.

Sebuah memori NYATA. Bukan fiksi atau fiktif yang membuat seseorang kembali menganalisa. Inilah kami, NYATA, bukan kebohongan atau pencitraan semata. NYATAnya, kami ada, bersinergi, bersama, beKERJA.

Monday, 30 April 2018

Mengalir di Jurusan Farmasi | Kisah Seorang Dosen Kimia Fisik

Sore ini adalah waktunya untuk diskusi. Diskusi dilakukan sekali tatap muka, sebelum dilakukannya praktikum. Dua kelompok telah berkumpul di ruang sidang untuk berdiskusi dengan salah satu professor dari departemen kimia medisinal.

Beliau masuk dengan langkah yang pelan. Wajahnya menunjukkan pengalamannya yang begitu banyak. Sudah begitu banyak asinnya kehidupan telah beliau kecap.

Diskusi berlangsung begitu hening. Di awal pertemuan, beliau tidak mengucap salam, jadi aku mengira beliau non-muslim. Mata beliau terlihat sipit, itu juga memperkuat dugaanku. Entah mengapa, menurutku diskusi kali ini begitu tegang. Banyak mahasiswa yang terlihat gugup dan ragu dalam menyampaikan pendapatnya.

kimed

Pertanyaan yang beliau ajukan di luar teknis praktikum, lebih ke arah kemampuan dan pengetahuan dasar. Seperti, “mengapa kita harus menggunakan timbangan analitik untuk menimbang 2,00 gram fenol?” atau “Sebutkan jenis-jenis sendok! Dan jenis sendok apa yang digunakan untuk mengambil fenol saat penimbangan?”.

Tapi, pertanyaan itu malah membuat kami gelagapan, atau mungkin aku saja? (‘_’)

Apa yang beliau tanyakan pada kami memang begitu penting. Tapi karena beliau tidak mendapat yang memuaskan, beliau pun menjelaskannya kepada kami secara detail.

Misalnya saja timbangan. Jenis timbangan itu didasarkan dari ketelitian yang akan ditimbang. Ada timbangan ton, timbangan kilogram, timbangan gram, timbangan milligram, dan timbangan mikro. Jadi, mengapa kita harus menggunakan timbangan analitik (timbangan mikro) untuk menimbang 2,00 gram fenol? Karena pada diktat ditulis 2,00 bukan 2, jadi yang digunakan bukan timbangan gram, tapi analitik karena lebih teliti.

Setelah berdiskusi dengan beliau mengenai praktikum yang akan kami lakukan minggu depan. Sesi selanjutnya adalah cerita mengenai perkuliahan beliau saat muda dulu. Mulai pada sesi inilah, seolah-olah aku melihat buah nangka yang sudah dibuka. Sfiat ramah beliau pun muncul.

Beliau adalah pemuda asal Blora. Dengan ambisinya, beliau ingin kuliah mengambil jurusan kedokteran. Tapi sesampainya di tempat pendaftaran. Universitas tersebut mengatakan yang intinya mahasiswa dari daerah beliau berasal (dan daerah-daerah lain) tidak diperkenankan memilih jurusan kedokteran.

Saat disebutkan jurusan farmasi, beliau langsung saja memilih itu. Padahal beliau tidak tahu menahu tentang jurusan tersebut. Bahkan nama jurusan itu baru saja didengar olehnya saat disebutkan oleh petugas tadi.

Sebelumnya juga sudah didiskusikan dengan kakak-kakak beliau. Karena kakak beliau sudah ada yang jurusan ekonomi, jurusan ekonomi-UGM pun dilepas.

Di semester awal, beliau mengalami city sindorm. Perubahan sikap seseorang karena bergantinya lingkungan, sehingga menyebabkan perubahan rutinitas, aktivitas, dll. Jadi ceritanya, semester awal, beliau masih menjalani kuliah biasa-biasa saja, malah diselingi dengan nge-band. Intiinya, beliau belum menganggap kuliah di farmasi nggak butuh diseriusin.

Setelah keluar hasilnya( berbeda dengan jaman sekarang, dulu tidak keluar nilai, hanya tulisan L (lulus) dan TL (tidak lulus)) ternyata beliau mendapat TL untuk semua mata kuliah.

Selang beberapa hari, ayah beliau datang, rela naik kereta tiga kali. Menemukan beliau sedang bersantai di depan kos. Hasil dari ujian yang dikirim di rumah dibawa oleh ayahnya, kemudian ditempel di dahi beliau, sambil berkata, “Kamu niat sekolah tidak?”

Setelah mengucap sebuah pertanyaan yang tidak butuh jawaban, ayah beliau langsung berbalik. Meninggalkan beliau yang masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi.

Intinya, ayah beliau marah.

Semenjak saat itu, beliau pun mulai serius belajar farmasi. Karena di tahun beliau belajar, system penilaian kuliah masih tahunan (40% semester ganjil dan 60% semester genap), beliau pun berharap nilai semester duanya bisa membuahkan hasil yang baik.

Dan ternyata, hasilnya memang baik. Beliau termasuk salah satu dari 3 orang yang naik tingkat. Padahal teman-temannya ada belasan yang her (remidi). Ada 11 orang yang dikeluarkan. Mulai saat itu beliau berpikir bahwa faramasi memang bidangnya.

Kita lanjut cerita ke masa studi beliau di S3.

Pada saat itu beliau sedang masa-masa frustasinya, beliau malah membuat sebuah buku yang hanya ada satu di Indonesia, yaitu Kimia Medisinal. Itu merupakan sebuah ilmu baru di Indonesia. Dan beliaulah orang pertama yang mendalami ilmu tersebut.

Jadi saat beliau sidang, penguji tidak banyak yang tahu dengan apa yang beliau teliti. Bahkan sempat dimarahi saat siding, sampai dibuang tulisan beliau, “Tulisan apa ini, Tidak bermutu!” kata sang penguji. Tapi beliau dengan sabar menjawab, “Maaf apa yang saya tulis adalah ilmu baru di Indonesia”.

Tapi ternyata setelah beliau istirahat makan-makan, orang yang tadi membentak beliau dengan gembira menyapa beliau. Ternyata sikapnya tadi hanyalah untuk menguji seberapa yakin beliau dalam mengajukan penelitiannya, sekaligus menguji mental.

Pada saat beliau menyebutkan karya-karya beliau dan dibantu oleh ‘tangan’ Allah, beliau selalu berucap hamdalah. Sebegitu sering beliau mengucapkan kalimat tersebut.

Masih banyak lagi karya-karya beliau. Sehingga tidak bisa saya sebutkan di sini.

Sikap beliau yang begitu luwes membawa beliau menuju kesuksesan.

Kesuksesaan bukan melulu tentang ambisi.

Sukses bisa dicapai dari aliran air.

Mengalir mengikuti alur kehidupan.

Tetap sabar dan berusaha.

-0-

Sebuah sepenggal kisah yang didapat penulis saat diskusi di Laboratorium Kimia Medisinal, Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga.

Terima kasih Bapak Siswandono atas ilmu yang Bapak berikan.

Saturday, 28 April 2018

Laki-laki itu | Cerita Pendek


Laki-laki itu...
sedang dikerumuni anak-anak yang lain. Riuh, sebuah kata yang pas untuk menggambarkan keadaan kelompok anak laki-laki umur 9 tahunan. Anak laki-laki yang menjadi pusat perhatian di situ membawa sesuatu berbentuk kotak, dengan dua belas batang rokok berwarna putih di dalamnya.

fanfiksi, cerpen indoensia, fiksi, prosa

Beberapa obrolan kecil menyelingi kegiatan menyesap batangan berwarna putih itu. Asap putih mengepul tinggi daintara rindangnya pohon mangga. Membuat pohon –pohon itu merasakan kepulan asap rokok yang semakin menebal.

Ia duduk diantara yang lain. Ia memusatkan atensi yang ada di sana. Kecerdasannya membuat anak-anak lain menuruti titahnya. Saat dia berkata, semua telinga mendengarnya, tak ada yang berpaling. Semua mata, tertuju padanya. Ialah yang memberi perintah.

Laki-laki itu…
menerima beberapa senyuman simpul dari beberapa orang tua yang lewat di depannya. Meskipun tidak begitu jelas terlihat, tapi jika diperhatikan, orang yang melewatinya akan menundukkan pandangannya, sedikit membungkuk. 

Segan. Menerima penghormatan . Itulah yang didapatkannya. Dikenal oleh semua orang di desanya. Setiap langkahnya mengundang tatapan mata. Suaranya yang khas menarik perhatian orang-orang disekitarnya.

Itulah dirinya, mengkopi ayahnya. Seseorang yang terpandang. Memiliki wewenang.

Laki-laki itu…
Memasuki bangku SMA. Ia memulai kembali debutnya. Sudah beberapa universitas dijajahnya. Ia kembali ke atas panggungnya. Semua guru mengenalnya. Tak ada yang tidak mengenalnya. Sebuah perhatian lebih diberikannya. Ia juga selalu di peringkat pertama.

Piala adalah pengikutnya. Satu adalah budaknya. Seolah-olah karena kecerdasan akalnya membuat satu bertekuk lutut padanya.

Wajahnya yang lembut, membuat siapa saja yang bersitatap dengannya meramahkan wajahnya. Wajahnya seolah-olah mengatakan, “kaulah sahabatku”. Membuat siapa saja yang melihatnya berpikir bahwa ia adalah teman lama.

Tutur katanya memikat banyak hati. Sudah banyak orang yang menyimpan tutur kata tegas, tapi lembutnya di dalam memori.

Ia adalah sosok yang tersimpan dalam memori. Yang tersimpan dalam hati. Yang membuat setiap hati memberikan atensi.

Laki-laki itu…
menorehkan prestasi. Mengukir sebuah sejarah penting di fakultasnya. Sudah banyak jemarinya menaklukan lomba karya tulis ilmiah.

Bahkan sekarang, ia sedang ada pada puncaknya.

Ya, laki-laki itu…
Sekarang berada di sampingku.
Telah lama aku berada di dekatnya.
Dari mulai ia masih membaca dan mengeja.
Sudah kulihat prestasinya.
Sudah banyak kulihat orang lain "terperdaya" olehnya
Sudah banyak atensi diperolehnya

Kami tidak dekat
Kami hanya selalu ada di sekolah yang sama

Aku sudah berusaha sepertinya, bahkan lebih baik darinya. Tapi yang kutemukan hanyalah kecewa.
Saat ia menyesap tembakau itu, aku berdiri jauh darinya, mengamati. Tak banyak yang kulakukan. Aku hanya ingin memantaunya. Bukankah saat kau melakukan keburukan, ada orang lain yang akan mendahuluimu. Mendapat kesempatan lebih. Setidaknya itu yang kupikirkan.

Tapi mengapa, ia selalu yang terpilih untuk menjadi perwakilan sekolah untuk lomba. Aku sudah berusaha. Bahkan ia juga mendapat amarah. Tapi mengapa masih dia.

Saat di SMA. Bahkan ia lebih banyak mendapatkannya. Ia sudah mengosongkan perutnya. Ia berpuasa. Aku pun mengikutinya. Mungkin dengan begitu, keberuntunganku akan sama dengannya.
Tapi, semua atensi tersedot padanya. Tiada yang tersisa untukku. Aku semakin kecewa.
Mengapa harus dia?

Laki-laki itu…
Ia selalu disana, panggungnya
Wajah, suara, dan tingkahnya
Semuanya
Mengapa ia bisa mendapatkannya
Padahal aku sudah berusaha lebih
Tapi yang kudapatkan hanya ini

Laki-laki itu…

Siapa dia?

-0-

Note : Ini tentang teman laki-laki. Pingin buat yang perempuan, tapi belum tahu juga. Takutnya nanti malah maksiat, wkwk. Mental masih belum kuat.

Friday, 27 April 2018

Dragon Nest M : "Obat" Psikotropik Penghilang Stres

Stres adalah semua PERUBAHAN yang memerlukan PENYESUAIAN dan PENYELESAIAN. Jadi jika kita tidak bisa melakukan penyesuaian terhadap suatu perubahan, maka besar kemungkinan kita akan terjerembap dalam kubangan stres. 

dragon nest M, dragon nest indonesia, stres, mmorpg, rpg, game, android

Oh, Farmasi, begitu begitu erat engkau memeluk ku, dengan laporan-laporan itu, gambar-gambar tanaman itu, jurnal-jurnal itu, dan masih banyak lagi yang ingin kau berikan padaku. Sebegitu sayangnya dirimu padaku. Hingga kau tak mau atensi ku teralihkan darimu.

Oh, farmasiku. T_T

Wkwk, teman-teman bisa menghiraukan racauan di atas. Itu hanya obrolan tak penting antar sepasang kekasih, yang di dalam hubungan tersebut ada pihak 'yang terlalu protektif'.

Yah, stres. Sosok yang datang ketika diri ini telah tercebur dalam lautan tugas-tugas kuliah, membuat diri ini melarut dalam lautan tersebut. Sedikit demi sedikit mengaburkan pandangan akan tujuan yang dulu telah kutetapkan. Stres. Itulah yang ku hadapi sekarang.

Nah, mungkin teman-teman sudah tahu bahwa game adalah salah satu penawar dari stres tersebut. Benar memang jika game tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi menurut saya game tidak sepenuhnya tidak berguna dalam menghadapi masalah yang membuat kita stres.

Katalis (istilah dalam kinetika reaksi), itulah kata yang tepat untuk mewakili peran game dalam menghadapi masalah. Yaitu sebuah senyawa yang berguna untuk menurunkan energi aktivasi. Yah, kita anggap stress memiliki energi yang tinggi dan game adalah katalisnya. Jika diandaikan seperti itu, maka game bisa menurunkan tingkat stres yang kita alami. Mengendorkan saraf-saraf yang menegang akibat stres yang datang dan membuat kita tercengang.

Tapi ingat, jangan terlalu sering memainkannya. Nanti malah jadi 'cinta buta'.

Sebenarnya saya ingin mereview game ini, tapi entah mengapa saya malah ngelantur. Okey, langsung saja, kita kupas game ini secara kasar. Jangan lupa, mengupasnya ke arah dalam agar didapat sayatan yang tipis, wkwk (yang pernah praktikum anatomi 'batang/daun' pasti tahu maksudnya)

Jadi awal mulanya saya sedang jalan-jalan di playstroe. Kemudian gak sengaja menemukan game Dragon Nest M. Game yang pernah kumainkan selama enam tahun di komputer, dan sekarang sudah ada di android. Wah, girang banget. Seolah-olah ketemu mantan terus balikan (ngomong apasih, perasaan gak pernah pacaran).

Saat jempol sudah menyentuh tombol download, tiba-tiba 3 digit angka keluar, dengan embel-embel MB dibelakangnya. Gila! Ratusan MB harus dilahap oleh memori internalku yang tinggal sedikit, so sad. T_T Tapi tak apalah, kan ada wifi.

Setelah menunggu untuk waktu yang lama, 15 menitan, akhirnya Dragon Nest M sudah terinstal di smartphone ku. Akhirnya aku bisa segera memainkannya, karena kebetulan saat itu hari Jum'at/Sabtu yaitu hari libur.

Setelah masuk pun masih ada beberapa file yang harus di download. Jadi teman-teman harus sabar sebelum memainkannya. Setelah kulihat di data aplikasi, ternyata game Dragon Nest M ini memakan memori sekitar 1,6-1,8 GB. Gak banyak sih tapi, karena di Xia*mi pengguna tidak bisa memindahkan file aplikasi ke Memory Card, maka ini adalah masalah.  Bakalan sering dapat notifikasi memori penuh.

dragon nest, dragon nest m, mmorpg, game andorid


Saat awal login aku menggunakan opsi guest, yang berarti tidak perlu mendaftar, hanya perlu membuat karakter dengan nama. Job Sorceress adalah job yang kuambil. Job yang memiliki range tidak terlalu dekat (melee) dan juga tidak terlalu jauh. AOE dari tiap-tiap skillnya juga luas, so, kujatuhkan pilihanku pada karakter 'tante' (begitulah pemain Dragon Nest biasa menyebutnya). 

Oh iya, server dari game Dragon Nest M ini sudah internasional loh. Jadi kalian bisa berinteraksi dengan orang luar negeri, yah, meskipun berakhir dengan sering bertemu pemain dari Thailand.

1. Gameplay
Gameplaynya hampir sama dengan yang ada di PC, hanya saja ,di Dragon Nest M ini, untuk memudahkan pemain, developer membuat karakter kita secara otomatis membidik musuh secara otomatis. Jadi tanpa kita atur sudut pandangnya pun, karakter kita akan otomatis menyerang ke arah musuh yang dibidik

Sayangnya fitur ini sangat mengganggu saat kita melakukan PVP (Player Vs Player). Masalahnya adalah saat musuh kita lari terus, maka apa yang kita tembakkan (untuk job-job yang mid-range atau long-range) akan meleset. Hal itu bisa dimanfaatkan lawan untuk mengulur waktu, sehingga pertandingan itu berakhir dengan DRAW.

Inginku berkata kasar, "KASAR!".

Karena di PVP draw berarti kedua pemain masih hidup. Tidak seperti di PC, yang mana jumlah HP yang tersisa sangat mempengaruhi hasil dari pertandingan.

2. Display
Untuk tampilannya sudah bagus, malah menurutku hampir sempurna, karena sangat mirip sekali dengan yang ada di PC. Penggunaan warna yang beragam dan terkesan gelap (dalam duengon, monster, dll) juga sangat pas, sehingga tidak mengganggu pemain.

3. Music
Musik yang digunakan sama persis dengan yang ada di Dragon Nest PC. Tidak ada gangguan atau suara-suara yang aneh pada saat memainkannya. Sangat saya rekomendasikan untuk menyalakan suaranya pada saat main.

4. Leveling
Jika di PC saya bisa naik level sampai 20 dalam sehari, di game ini sangat sulit. Kendalanya ada pada pembatasan energi yang menurut saya kurang untuk leveling. Tapi pihak developer sudah memberikan solusi dengan memberikan energi tiap siang dan malam. Menurut saya itu masih kurang.

Juga, untuk masuk nest juga diperlukan tiket. Tiket itu bisa dibeli dengan koin khusus, yang mana koin itu sangat sulit untuk didapatkan. Dan saya tidak mau menggunakan koin itu, terlalu sayang. Padahal nest adalah tempat yang paling tepat untuk leveling.

Tapi untuk awal-awal masih sedikit mudah karena kebutuhan EXP yang masih sedikit. Juga dibarengi ada Daily Event yang mana total EXPnya mencapai 27.500, lumayan loh. Jadi jangan dilewatkan.

Di Dragon Nest M ini kita bisa mengganti secondary job yang sudah terlanjur kita pilih dengan secondary job yang lain. Hal itu bisa dilakukan dengan mengeluarkan koin khusus 50 c (c adalah satuan dari koin khusus). Jadi jika merasa tidak cocok dengan secondary job yang kita pilih, kita bisa menggantinya, cukup dengan 50 c, tanpa harus mengeluarkan uang.

Meskipun skill yang kita miliki banyak variannya. Tapi, skill yang bisa kita gunakan untuk bertarung dibatasi hanya 5 skill aktif, 2 skill buff, dan satu skill ultimate. Jadi bijaklah dalam memilih skill yang akan digunakan.

5. Strengthen The Character
Untuk mempekuat karakter kita, developer telah memudahkannya dengan cara meperbesar rate enhance equip kita. Banyak juga atribut yang bisa kita dapat dengan mudah. Semacam kostum yang dibuat dari loot nest.

Jika di Dragon Nest PC ada action figur yang bisa digunakan untuk gift ke NPC. Dragon Nest M memberikan fitur card, yang mana apabila kita kumpulkan kartu-kartu tersebut dengan kombinasi tertentu, akan memberikan efek yang tertentu pula.

Sebenarnya masih banyak yang ingin saya sampaikan lagi mengenai game Dragon Nest M, tapi karena laporan Kimia Fisik sudah merengek-rengek, maka saya sudahi dulu sampai disini.

Terima Kasih atas kunjungannya

Informasi HP saya : Redmi Note 2, Ram 2GB, ROM 16 GB, Prosesor Mediatek Helios Oktacore 1,9 GHz

Topik : Dragon Nest, Dragon Nest M, MMORPG, Game Andorid, Farmasi, Ulasan Game, Game Keren, Game Review, Game RPG, stres, dinamika stres

Thursday, 17 August 2017

Kulabuhkan 5 Tahunku di Farmasi

"Berawal dari kimia yang sering membuatku temnggelam dalam perenungan, kesehatan menjadi suatu rumpun ilmu yang akan kujadikan tujuan. Tak ada yang salah dengan keraguan, yang terpenting adalah Kau, Keputusan, Resiko, dan Pertanggung Jawaban" ~ Pejuang SBMPTN

dragon nest M, dragon nest indonesia, stres, mmorpg, rpg, game, android
Jurusan Farmasi. Sebuah jurusan yang berkecimpung di ranah kesehatan, yang fokus pada bidang pembuatan, pengembangan, dan pemsyarakatan (saya kurang tahu padanan kata pemasyarakatan) suatu sediaan obat. Yang mana kimia adalah modal dari ilmu farmasi. Karena farmasi sangat berkaitan dengan senyawaan kimia, entah itu sintesis atau dari alam.

Jurusan Paling Diminati
sumber : www.youthmanual.com


Farmasi? What? Nggak salah pilih jurusan?

Mungkin itulah yang terlintas di pikiran orang-orang di sekitarku (kakak, teman dan guru). Saya memaklumi jika mereka heran dengan pilihan saya. Karena memang kenyataannya saya bukanlah anak yang memiliki banyak prestasi dan talenta. Saya hanyalah anak biasa dengan tujuan yang -mungkin sedikit- tinggi.

Tapi masih ada cerita sebelum kuputuskan untuk menjatuhkan pilihanku ke jurusan farmasi.

Semenjak awal semester genap kelas XII saya sudah punya target jurusan yang akan saya jadikan pilihan, yaitu Ilmu Gizi. Ya, jurusan yang peminatnya sangat banyak, menyaingi kedokteran. Saya tertarik dengan jurusan ini karena nanti akan berurusan dengan kimia pangan. Saya memiliki angan jika saya sudah lulus dari prodi tersebut saya bisa membuat aneka makanan sehat, dan tentunya ramah di lidah.

Tapi pilihan ini kandas sebelum berperang karena kepesimisanku sebab peminatnya yang begitu banyak, sekitar 2 ribu sampai 5 ribu. Saya juga melirik 'saudari'nya, yaitu Kesehatan Masyarakat. Tapi sayangnya saya tidak terlalu minat dengan prodi ini karena ada embel-embel masyarakat.

Setelah searching tentang jurusan kesehatan, saya pun mulai melirik prodi farmasi. Sebuah jurusan yang juga meniliti bahan pangan -saya menganggap apapun yang ditelan sebagai pangan wkwk-. Dan saat saya melihat peminatnya tahun kemarin, saya cengo. WTH, kenapa prodi yang saya minati selalu memiliki peminat yang begitu banyak (-_-)"

Saya tidak mundur karena saya memang benar-benar bertekad untuk memilih jurusan ini. Mengasyikkan bukan jika kita bisa mempelajari suatu zat obat kemudian mencoba membuat dengan 'tangan kita sendiri'. Ya, keputusanku sudah bulat.

Setelah itu, saya mulai mencari informasi tentang jurusan farmasi. Mulai dari apa yang dipelajari, apa yang akan kita terapkan di masyarakat, dan prospek kerja (meskipun ini menurut kebanyakan orang penting, tapi saya tak ambil pusing dengan prospek kerja). Semakin berkobar semangat saya untuk masuk prodi farmasi.

Saat SNMPTN saya sudah yakin jika saya tidak akan diterima di universitas yang terletak di Bandung yang jauh disana. Saya sadar diri dengan nilai rapot dan prestasi saya. Lagipula, sekolah saya juga bukan SMA ternama. Maka dari itu saya langsung fokus untuk belajar materi SBMPTN.

Hasil SNMPTN? Bisa ditebak hasilnya. Saya ditolak oleh unversitas yang tidak saya impikan tersebut. Mengapa saya tidak mengatakan itu universitas impian, karena saya memilih universitas tersebut karena hasil survey saya dari internet dan orang yang berkuliah di sana. Saya tidak terlalu memikirkan dimana saya akan belajar, yang penting adalah apa yang akan saya pelajari.

Saat saya mengatakan tidak diterima jalur SNMPTN, kakak saya berkata lebih baik cari prodi yang peminatnya sedikit. Dan saya menolak usulan tersebut. "Terima resikonya," kata kakakku.

Perjuangan saya di SBMPTN pun dimulai

Saat menjelang UN yang begitu digembar-gemborkan oleh para guru, saya masih berkutat dengan materi SBMPTN, entah mengapa saya tidak berminat dengan pelajaran UN. Mungkin karena saya panik. Saya khawatir jika saya tidak bisa menguasai beberapa bab yang diujikan di SBMPTN. Akhirnya, saya mendapat nilai UN yang sangat tidak memuaskan. Inilah yang saya korbankan. Saya harap tidak ditiru oleh pembaca.

Saat pengumuman SBMPTN saya berada di warnet sebelum jam pengumuman. Sambil menunggu, saya memainkan game online favorit saya. Waktu terasa begitu lambat saat saya main game online. Dag-dig-dug. Dan Klik.... saya diterima di jurusan farmasi salah satu universitas ternama di Indonesia. Alhamdulillah.

Menurut saya masuk farmasi tidak seberapa sulit jika kita memiliki strategi. Yang saya maksud adalah strategi dalam menjawab pertanyaan SBMPTN. Jangan menjawab soal yang memang tidak bisa. Dan usahakan jawab setengah jumlah soal atau lebih.

Mengapa saya katakan tidak seberapa sulit? Karena saat saya menjabarkan komposisi soal yang sudah saya jawab kepada teman saya, dia terheran. Wajahnya mengatakan, "Bagaimana bisa dengan jumlah soal yang dijawab sedikit -dibidang TKD- bisa masuk farmasi?". Saya hanya bisa mengucap syukur. Orang yang biasa-biasa saja seperti saya bisa masuk farmasi. Alhamdulillah.

"Atau Passing Grade prodi farmasi yang mulai turun?"

Inilah perkataan teman saya yang mungkin bisa menambah keyakinan teman-teman untuk masuk farmasi. Buktinya, saya bisa masuk :D

Sekian dari saya. Semoga apa yang saya bagikan bagi teman-teman.

Khususnya untuk anak kelas XII, saya tunggu kalian di jurusan Farmasi.

Sampai bye-bye

(https://ceripedia.blogspot.com/2017/08/kulabuhkan-5-tahunku-di-farmasi.html)
Readsd mode at: https://www.brainyquote.com/quotes/authors/h/hippocrates.html