Saturday, 28 April 2018

Laki-laki itu | Cerita Pendek


Laki-laki itu...
sedang dikerumuni anak-anak yang lain. Riuh, sebuah kata yang pas untuk menggambarkan keadaan kelompok anak laki-laki umur 9 tahunan. Anak laki-laki yang menjadi pusat perhatian di situ membawa sesuatu berbentuk kotak, dengan dua belas batang rokok berwarna putih di dalamnya.

fanfiksi, cerpen indoensia, fiksi, prosa

Beberapa obrolan kecil menyelingi kegiatan menyesap batangan berwarna putih itu. Asap putih mengepul tinggi daintara rindangnya pohon mangga. Membuat pohon –pohon itu merasakan kepulan asap rokok yang semakin menebal.

Ia duduk diantara yang lain. Ia memusatkan atensi yang ada di sana. Kecerdasannya membuat anak-anak lain menuruti titahnya. Saat dia berkata, semua telinga mendengarnya, tak ada yang berpaling. Semua mata, tertuju padanya. Ialah yang memberi perintah.

Laki-laki itu…
menerima beberapa senyuman simpul dari beberapa orang tua yang lewat di depannya. Meskipun tidak begitu jelas terlihat, tapi jika diperhatikan, orang yang melewatinya akan menundukkan pandangannya, sedikit membungkuk. 

Segan. Menerima penghormatan . Itulah yang didapatkannya. Dikenal oleh semua orang di desanya. Setiap langkahnya mengundang tatapan mata. Suaranya yang khas menarik perhatian orang-orang disekitarnya.

Itulah dirinya, mengkopi ayahnya. Seseorang yang terpandang. Memiliki wewenang.

Laki-laki itu…
Memasuki bangku SMA. Ia memulai kembali debutnya. Sudah beberapa universitas dijajahnya. Ia kembali ke atas panggungnya. Semua guru mengenalnya. Tak ada yang tidak mengenalnya. Sebuah perhatian lebih diberikannya. Ia juga selalu di peringkat pertama.

Piala adalah pengikutnya. Satu adalah budaknya. Seolah-olah karena kecerdasan akalnya membuat satu bertekuk lutut padanya.

Wajahnya yang lembut, membuat siapa saja yang bersitatap dengannya meramahkan wajahnya. Wajahnya seolah-olah mengatakan, “kaulah sahabatku”. Membuat siapa saja yang melihatnya berpikir bahwa ia adalah teman lama.

Tutur katanya memikat banyak hati. Sudah banyak orang yang menyimpan tutur kata tegas, tapi lembutnya di dalam memori.

Ia adalah sosok yang tersimpan dalam memori. Yang tersimpan dalam hati. Yang membuat setiap hati memberikan atensi.

Laki-laki itu…
menorehkan prestasi. Mengukir sebuah sejarah penting di fakultasnya. Sudah banyak jemarinya menaklukan lomba karya tulis ilmiah.

Bahkan sekarang, ia sedang ada pada puncaknya.

Ya, laki-laki itu…
Sekarang berada di sampingku.
Telah lama aku berada di dekatnya.
Dari mulai ia masih membaca dan mengeja.
Sudah kulihat prestasinya.
Sudah banyak kulihat orang lain "terperdaya" olehnya
Sudah banyak atensi diperolehnya

Kami tidak dekat
Kami hanya selalu ada di sekolah yang sama

Aku sudah berusaha sepertinya, bahkan lebih baik darinya. Tapi yang kutemukan hanyalah kecewa.
Saat ia menyesap tembakau itu, aku berdiri jauh darinya, mengamati. Tak banyak yang kulakukan. Aku hanya ingin memantaunya. Bukankah saat kau melakukan keburukan, ada orang lain yang akan mendahuluimu. Mendapat kesempatan lebih. Setidaknya itu yang kupikirkan.

Tapi mengapa, ia selalu yang terpilih untuk menjadi perwakilan sekolah untuk lomba. Aku sudah berusaha. Bahkan ia juga mendapat amarah. Tapi mengapa masih dia.

Saat di SMA. Bahkan ia lebih banyak mendapatkannya. Ia sudah mengosongkan perutnya. Ia berpuasa. Aku pun mengikutinya. Mungkin dengan begitu, keberuntunganku akan sama dengannya.
Tapi, semua atensi tersedot padanya. Tiada yang tersisa untukku. Aku semakin kecewa.
Mengapa harus dia?

Laki-laki itu…
Ia selalu disana, panggungnya
Wajah, suara, dan tingkahnya
Semuanya
Mengapa ia bisa mendapatkannya
Padahal aku sudah berusaha lebih
Tapi yang kudapatkan hanya ini

Laki-laki itu…

Siapa dia?

-0-

Note : Ini tentang teman laki-laki. Pingin buat yang perempuan, tapi belum tahu juga. Takutnya nanti malah maksiat, wkwk. Mental masih belum kuat.

0 comments:

Post a Comment