Laki-laki itu...
sedang dikerumuni anak-anak yang lain. Riuh, sebuah kata yang pas untuk menggambarkan keadaan kelompok anak laki-laki umur 9 tahunan. Anak laki-laki yang menjadi pusat perhatian di situ membawa sesuatu berbentuk kotak, dengan dua belas batang rokok berwarna putih di dalamnya.
sedang dikerumuni anak-anak yang lain. Riuh, sebuah kata yang pas untuk menggambarkan keadaan kelompok anak laki-laki umur 9 tahunan. Anak laki-laki yang menjadi pusat perhatian di situ membawa sesuatu berbentuk kotak, dengan dua belas batang rokok berwarna putih di dalamnya.
Beberapa obrolan kecil menyelingi kegiatan menyesap batangan
berwarna putih itu. Asap putih mengepul tinggi daintara rindangnya pohon
mangga. Membuat pohon –pohon itu merasakan kepulan asap rokok yang semakin
menebal.
Ia duduk diantara yang lain. Ia memusatkan atensi yang ada
di sana. Kecerdasannya membuat anak-anak lain menuruti titahnya. Saat dia
berkata, semua telinga mendengarnya, tak ada yang berpaling. Semua mata,
tertuju padanya. Ialah yang memberi perintah.
Laki-laki itu…
menerima beberapa senyuman simpul dari beberapa orang tua
yang lewat di depannya. Meskipun tidak begitu jelas terlihat, tapi jika
diperhatikan, orang yang melewatinya akan menundukkan pandangannya, sedikit
membungkuk.
Segan. Menerima penghormatan . Itulah yang didapatkannya. Dikenal
oleh semua orang di desanya. Setiap langkahnya mengundang tatapan mata. Suaranya
yang khas menarik perhatian orang-orang disekitarnya.
Itulah dirinya, mengkopi ayahnya. Seseorang yang terpandang.
Memiliki wewenang.
Laki-laki itu…
Memasuki bangku SMA. Ia memulai kembali debutnya. Sudah
beberapa universitas dijajahnya. Ia kembali ke atas panggungnya. Semua guru
mengenalnya. Tak ada yang tidak mengenalnya. Sebuah perhatian lebih
diberikannya. Ia juga selalu di peringkat pertama.
Piala adalah pengikutnya. Satu adalah budaknya. Seolah-olah
karena kecerdasan akalnya membuat satu bertekuk lutut padanya.
Wajahnya yang lembut, membuat siapa saja yang bersitatap
dengannya meramahkan wajahnya. Wajahnya seolah-olah mengatakan, “kaulah
sahabatku”. Membuat siapa saja yang melihatnya berpikir bahwa ia adalah teman
lama.
Tutur katanya memikat banyak hati. Sudah banyak orang yang
menyimpan tutur kata tegas, tapi lembutnya di dalam memori.
Ia adalah sosok yang tersimpan dalam memori. Yang tersimpan
dalam hati. Yang membuat setiap hati memberikan atensi.
Laki-laki itu…
menorehkan prestasi. Mengukir sebuah sejarah penting di
fakultasnya. Sudah banyak jemarinya menaklukan lomba karya tulis ilmiah.
Bahkan sekarang, ia sedang ada pada puncaknya.
Ya, laki-laki itu…
Sekarang berada di sampingku.
Telah lama aku berada di dekatnya.
Dari mulai ia masih membaca dan mengeja.
Sudah kulihat prestasinya.
Sudah banyak kulihat orang lain "terperdaya" olehnya
Sudah banyak atensi diperolehnya
Kami tidak dekat
Kami hanya selalu ada di sekolah yang sama
Aku sudah berusaha sepertinya, bahkan lebih baik darinya. Tapi
yang kutemukan hanyalah kecewa.
Saat ia menyesap tembakau itu, aku berdiri jauh darinya,
mengamati. Tak banyak yang kulakukan. Aku hanya ingin memantaunya. Bukankah saat
kau melakukan keburukan, ada orang lain yang akan mendahuluimu. Mendapat kesempatan
lebih. Setidaknya itu yang kupikirkan.
Tapi mengapa, ia selalu yang terpilih untuk menjadi
perwakilan sekolah untuk lomba. Aku sudah berusaha. Bahkan ia juga mendapat
amarah. Tapi mengapa masih dia.
Saat di SMA. Bahkan ia lebih banyak mendapatkannya. Ia sudah
mengosongkan perutnya. Ia berpuasa. Aku pun mengikutinya. Mungkin dengan
begitu, keberuntunganku akan sama dengannya.
Tapi, semua atensi tersedot padanya. Tiada yang tersisa
untukku. Aku semakin kecewa.
Mengapa harus dia?
Laki-laki itu…
Ia selalu disana, panggungnya
Wajah, suara, dan tingkahnya
Semuanya
Mengapa ia bisa mendapatkannya
Padahal aku sudah berusaha lebih
Tapi yang kudapatkan hanya ini
Laki-laki itu…
Siapa dia?
-0-
Note : Ini tentang teman laki-laki. Pingin buat yang perempuan, tapi belum tahu juga. Takutnya nanti malah maksiat, wkwk. Mental masih belum kuat.

0 comments:
Post a Comment