Monday, 30 April 2018

Mengalir di Jurusan Farmasi | Kisah Seorang Dosen Kimia Fisik

Sore ini adalah waktunya untuk diskusi. Diskusi dilakukan sekali tatap muka, sebelum dilakukannya praktikum. Dua kelompok telah berkumpul di ruang sidang untuk berdiskusi dengan salah satu professor dari departemen kimia medisinal.

Beliau masuk dengan langkah yang pelan. Wajahnya menunjukkan pengalamannya yang begitu banyak. Sudah begitu banyak asinnya kehidupan telah beliau kecap.

Diskusi berlangsung begitu hening. Di awal pertemuan, beliau tidak mengucap salam, jadi aku mengira beliau non-muslim. Mata beliau terlihat sipit, itu juga memperkuat dugaanku. Entah mengapa, menurutku diskusi kali ini begitu tegang. Banyak mahasiswa yang terlihat gugup dan ragu dalam menyampaikan pendapatnya.

kimed

Pertanyaan yang beliau ajukan di luar teknis praktikum, lebih ke arah kemampuan dan pengetahuan dasar. Seperti, “mengapa kita harus menggunakan timbangan analitik untuk menimbang 2,00 gram fenol?” atau “Sebutkan jenis-jenis sendok! Dan jenis sendok apa yang digunakan untuk mengambil fenol saat penimbangan?”.

Tapi, pertanyaan itu malah membuat kami gelagapan, atau mungkin aku saja? (‘_’)

Apa yang beliau tanyakan pada kami memang begitu penting. Tapi karena beliau tidak mendapat yang memuaskan, beliau pun menjelaskannya kepada kami secara detail.

Misalnya saja timbangan. Jenis timbangan itu didasarkan dari ketelitian yang akan ditimbang. Ada timbangan ton, timbangan kilogram, timbangan gram, timbangan milligram, dan timbangan mikro. Jadi, mengapa kita harus menggunakan timbangan analitik (timbangan mikro) untuk menimbang 2,00 gram fenol? Karena pada diktat ditulis 2,00 bukan 2, jadi yang digunakan bukan timbangan gram, tapi analitik karena lebih teliti.

Setelah berdiskusi dengan beliau mengenai praktikum yang akan kami lakukan minggu depan. Sesi selanjutnya adalah cerita mengenai perkuliahan beliau saat muda dulu. Mulai pada sesi inilah, seolah-olah aku melihat buah nangka yang sudah dibuka. Sfiat ramah beliau pun muncul.

Beliau adalah pemuda asal Blora. Dengan ambisinya, beliau ingin kuliah mengambil jurusan kedokteran. Tapi sesampainya di tempat pendaftaran. Universitas tersebut mengatakan yang intinya mahasiswa dari daerah beliau berasal (dan daerah-daerah lain) tidak diperkenankan memilih jurusan kedokteran.

Saat disebutkan jurusan farmasi, beliau langsung saja memilih itu. Padahal beliau tidak tahu menahu tentang jurusan tersebut. Bahkan nama jurusan itu baru saja didengar olehnya saat disebutkan oleh petugas tadi.

Sebelumnya juga sudah didiskusikan dengan kakak-kakak beliau. Karena kakak beliau sudah ada yang jurusan ekonomi, jurusan ekonomi-UGM pun dilepas.

Di semester awal, beliau mengalami city sindorm. Perubahan sikap seseorang karena bergantinya lingkungan, sehingga menyebabkan perubahan rutinitas, aktivitas, dll. Jadi ceritanya, semester awal, beliau masih menjalani kuliah biasa-biasa saja, malah diselingi dengan nge-band. Intiinya, beliau belum menganggap kuliah di farmasi nggak butuh diseriusin.

Setelah keluar hasilnya( berbeda dengan jaman sekarang, dulu tidak keluar nilai, hanya tulisan L (lulus) dan TL (tidak lulus)) ternyata beliau mendapat TL untuk semua mata kuliah.

Selang beberapa hari, ayah beliau datang, rela naik kereta tiga kali. Menemukan beliau sedang bersantai di depan kos. Hasil dari ujian yang dikirim di rumah dibawa oleh ayahnya, kemudian ditempel di dahi beliau, sambil berkata, “Kamu niat sekolah tidak?”

Setelah mengucap sebuah pertanyaan yang tidak butuh jawaban, ayah beliau langsung berbalik. Meninggalkan beliau yang masih bingung dengan apa yang baru saja terjadi.

Intinya, ayah beliau marah.

Semenjak saat itu, beliau pun mulai serius belajar farmasi. Karena di tahun beliau belajar, system penilaian kuliah masih tahunan (40% semester ganjil dan 60% semester genap), beliau pun berharap nilai semester duanya bisa membuahkan hasil yang baik.

Dan ternyata, hasilnya memang baik. Beliau termasuk salah satu dari 3 orang yang naik tingkat. Padahal teman-temannya ada belasan yang her (remidi). Ada 11 orang yang dikeluarkan. Mulai saat itu beliau berpikir bahwa faramasi memang bidangnya.

Kita lanjut cerita ke masa studi beliau di S3.

Pada saat itu beliau sedang masa-masa frustasinya, beliau malah membuat sebuah buku yang hanya ada satu di Indonesia, yaitu Kimia Medisinal. Itu merupakan sebuah ilmu baru di Indonesia. Dan beliaulah orang pertama yang mendalami ilmu tersebut.

Jadi saat beliau sidang, penguji tidak banyak yang tahu dengan apa yang beliau teliti. Bahkan sempat dimarahi saat siding, sampai dibuang tulisan beliau, “Tulisan apa ini, Tidak bermutu!” kata sang penguji. Tapi beliau dengan sabar menjawab, “Maaf apa yang saya tulis adalah ilmu baru di Indonesia”.

Tapi ternyata setelah beliau istirahat makan-makan, orang yang tadi membentak beliau dengan gembira menyapa beliau. Ternyata sikapnya tadi hanyalah untuk menguji seberapa yakin beliau dalam mengajukan penelitiannya, sekaligus menguji mental.

Pada saat beliau menyebutkan karya-karya beliau dan dibantu oleh ‘tangan’ Allah, beliau selalu berucap hamdalah. Sebegitu sering beliau mengucapkan kalimat tersebut.

Masih banyak lagi karya-karya beliau. Sehingga tidak bisa saya sebutkan di sini.

Sikap beliau yang begitu luwes membawa beliau menuju kesuksesan.

Kesuksesaan bukan melulu tentang ambisi.

Sukses bisa dicapai dari aliran air.

Mengalir mengikuti alur kehidupan.

Tetap sabar dan berusaha.

-0-

Sebuah sepenggal kisah yang didapat penulis saat diskusi di Laboratorium Kimia Medisinal, Fakultas Farmasi, Universitas Airlangga.

Terima kasih Bapak Siswandono atas ilmu yang Bapak berikan.

0 comments:

Post a Comment