"Berawal dari kimia yang sering membuatku temnggelam dalam perenungan, kesehatan menjadi suatu rumpun ilmu yang akan kujadikan tujuan. Tak ada yang salah dengan keraguan, yang terpenting adalah Kau, Keputusan, Resiko, dan Pertanggung Jawaban" ~ Pejuang SBMPTN
Jurusan Farmasi. Sebuah jurusan yang berkecimpung di ranah kesehatan, yang fokus pada bidang pembuatan, pengembangan, dan pemsyarakatan (saya kurang tahu padanan kata pemasyarakatan) suatu sediaan obat. Yang mana kimia adalah modal dari ilmu farmasi. Karena farmasi sangat berkaitan dengan senyawaan kimia, entah itu sintesis atau dari alam.
Farmasi? What? Nggak salah pilih jurusan?
Mungkin itulah yang terlintas di pikiran orang-orang di sekitarku (kakak, teman dan guru). Saya memaklumi jika mereka heran dengan pilihan saya. Karena memang kenyataannya saya bukanlah anak yang memiliki banyak prestasi dan talenta. Saya hanyalah anak biasa dengan tujuan yang -mungkin sedikit- tinggi.
Tapi masih ada cerita sebelum kuputuskan untuk menjatuhkan pilihanku ke jurusan farmasi.
Semenjak awal semester genap kelas XII saya sudah punya target jurusan yang akan saya jadikan pilihan, yaitu Ilmu Gizi. Ya, jurusan yang peminatnya sangat banyak, menyaingi kedokteran. Saya tertarik dengan jurusan ini karena nanti akan berurusan dengan kimia pangan. Saya memiliki angan jika saya sudah lulus dari prodi tersebut saya bisa membuat aneka makanan sehat, dan tentunya ramah di lidah.
Tapi pilihan ini kandas sebelum berperang karena kepesimisanku sebab peminatnya yang begitu banyak, sekitar 2 ribu sampai 5 ribu. Saya juga melirik 'saudari'nya, yaitu Kesehatan Masyarakat. Tapi sayangnya saya tidak terlalu minat dengan prodi ini karena ada embel-embel masyarakat.
Setelah searching tentang jurusan kesehatan, saya pun mulai melirik prodi farmasi. Sebuah jurusan yang juga meniliti bahan pangan -saya menganggap apapun yang ditelan sebagai pangan wkwk-. Dan saat saya melihat peminatnya tahun kemarin, saya cengo. WTH, kenapa prodi yang saya minati selalu memiliki peminat yang begitu banyak (-_-)"
Saya tidak mundur karena saya memang benar-benar bertekad untuk memilih jurusan ini. Mengasyikkan bukan jika kita bisa mempelajari suatu zat obat kemudian mencoba membuat dengan 'tangan kita sendiri'. Ya, keputusanku sudah bulat.
Setelah itu, saya mulai mencari informasi tentang jurusan farmasi. Mulai dari apa yang dipelajari, apa yang akan kita terapkan di masyarakat, dan prospek kerja (meskipun ini menurut kebanyakan orang penting, tapi saya tak ambil pusing dengan prospek kerja). Semakin berkobar semangat saya untuk masuk prodi farmasi.
Saat SNMPTN saya sudah yakin jika saya tidak akan diterima di universitas yang terletak di Bandung yang jauh disana. Saya sadar diri dengan nilai rapot dan prestasi saya. Lagipula, sekolah saya juga bukan SMA ternama. Maka dari itu saya langsung fokus untuk belajar materi SBMPTN.
Hasil SNMPTN? Bisa ditebak hasilnya. Saya ditolak oleh unversitas yang tidak saya impikan tersebut. Mengapa saya tidak mengatakan itu universitas impian, karena saya memilih universitas tersebut karena hasil survey saya dari internet dan orang yang berkuliah di sana. Saya tidak terlalu memikirkan dimana saya akan belajar, yang penting adalah apa yang akan saya pelajari.
Saat saya mengatakan tidak diterima jalur SNMPTN, kakak saya berkata lebih baik cari prodi yang peminatnya sedikit. Dan saya menolak usulan tersebut. "Terima resikonya," kata kakakku.
Perjuangan saya di SBMPTN pun dimulai
Saat menjelang UN yang begitu digembar-gemborkan oleh para guru, saya masih berkutat dengan materi SBMPTN, entah mengapa saya tidak berminat dengan pelajaran UN. Mungkin karena saya panik. Saya khawatir jika saya tidak bisa menguasai beberapa bab yang diujikan di SBMPTN. Akhirnya, saya mendapat nilai UN yang sangat tidak memuaskan. Inilah yang saya korbankan. Saya harap tidak ditiru oleh pembaca.
Saat pengumuman SBMPTN saya berada di warnet sebelum jam pengumuman. Sambil menunggu, saya memainkan game online favorit saya. Waktu terasa begitu lambat saat saya main game online. Dag-dig-dug. Dan Klik.... saya diterima di jurusan farmasi salah satu universitas ternama di Indonesia. Alhamdulillah.
Menurut saya masuk farmasi tidak seberapa sulit jika kita memiliki strategi. Yang saya maksud adalah strategi dalam menjawab pertanyaan SBMPTN. Jangan menjawab soal yang memang tidak bisa. Dan usahakan jawab setengah jumlah soal atau lebih.
Mengapa saya katakan tidak seberapa sulit? Karena saat saya menjabarkan komposisi soal yang sudah saya jawab kepada teman saya, dia terheran. Wajahnya mengatakan, "Bagaimana bisa dengan jumlah soal yang dijawab sedikit -dibidang TKD- bisa masuk farmasi?". Saya hanya bisa mengucap syukur. Orang yang biasa-biasa saja seperti saya bisa masuk farmasi. Alhamdulillah.
"Atau Passing Grade prodi farmasi yang mulai turun?"
Inilah perkataan teman saya yang mungkin bisa menambah keyakinan teman-teman untuk masuk farmasi. Buktinya, saya bisa masuk :D
Sekian dari saya. Semoga apa yang saya bagikan bagi teman-teman.
Khususnya untuk anak kelas XII, saya tunggu kalian di jurusan Farmasi.
Sampai bye-bye
(https://ceripedia.blogspot.com/2017/08/kulabuhkan-5-tahunku-di-farmasi.html)
![]() | |
| sumber : www.youthmanual.com |
Farmasi? What? Nggak salah pilih jurusan?
Mungkin itulah yang terlintas di pikiran orang-orang di sekitarku (kakak, teman dan guru). Saya memaklumi jika mereka heran dengan pilihan saya. Karena memang kenyataannya saya bukanlah anak yang memiliki banyak prestasi dan talenta. Saya hanyalah anak biasa dengan tujuan yang -mungkin sedikit- tinggi.
Tapi masih ada cerita sebelum kuputuskan untuk menjatuhkan pilihanku ke jurusan farmasi.
Semenjak awal semester genap kelas XII saya sudah punya target jurusan yang akan saya jadikan pilihan, yaitu Ilmu Gizi. Ya, jurusan yang peminatnya sangat banyak, menyaingi kedokteran. Saya tertarik dengan jurusan ini karena nanti akan berurusan dengan kimia pangan. Saya memiliki angan jika saya sudah lulus dari prodi tersebut saya bisa membuat aneka makanan sehat, dan tentunya ramah di lidah.
Tapi pilihan ini kandas sebelum berperang karena kepesimisanku sebab peminatnya yang begitu banyak, sekitar 2 ribu sampai 5 ribu. Saya juga melirik 'saudari'nya, yaitu Kesehatan Masyarakat. Tapi sayangnya saya tidak terlalu minat dengan prodi ini karena ada embel-embel masyarakat.
Setelah searching tentang jurusan kesehatan, saya pun mulai melirik prodi farmasi. Sebuah jurusan yang juga meniliti bahan pangan -saya menganggap apapun yang ditelan sebagai pangan wkwk-. Dan saat saya melihat peminatnya tahun kemarin, saya cengo. WTH, kenapa prodi yang saya minati selalu memiliki peminat yang begitu banyak (-_-)"
Saya tidak mundur karena saya memang benar-benar bertekad untuk memilih jurusan ini. Mengasyikkan bukan jika kita bisa mempelajari suatu zat obat kemudian mencoba membuat dengan 'tangan kita sendiri'. Ya, keputusanku sudah bulat.
Setelah itu, saya mulai mencari informasi tentang jurusan farmasi. Mulai dari apa yang dipelajari, apa yang akan kita terapkan di masyarakat, dan prospek kerja (meskipun ini menurut kebanyakan orang penting, tapi saya tak ambil pusing dengan prospek kerja). Semakin berkobar semangat saya untuk masuk prodi farmasi.
Saat SNMPTN saya sudah yakin jika saya tidak akan diterima di universitas yang terletak di Bandung yang jauh disana. Saya sadar diri dengan nilai rapot dan prestasi saya. Lagipula, sekolah saya juga bukan SMA ternama. Maka dari itu saya langsung fokus untuk belajar materi SBMPTN.
Hasil SNMPTN? Bisa ditebak hasilnya. Saya ditolak oleh unversitas yang tidak saya impikan tersebut. Mengapa saya tidak mengatakan itu universitas impian, karena saya memilih universitas tersebut karena hasil survey saya dari internet dan orang yang berkuliah di sana. Saya tidak terlalu memikirkan dimana saya akan belajar, yang penting adalah apa yang akan saya pelajari.
Saat saya mengatakan tidak diterima jalur SNMPTN, kakak saya berkata lebih baik cari prodi yang peminatnya sedikit. Dan saya menolak usulan tersebut. "Terima resikonya," kata kakakku.
Perjuangan saya di SBMPTN pun dimulai
Saat menjelang UN yang begitu digembar-gemborkan oleh para guru, saya masih berkutat dengan materi SBMPTN, entah mengapa saya tidak berminat dengan pelajaran UN. Mungkin karena saya panik. Saya khawatir jika saya tidak bisa menguasai beberapa bab yang diujikan di SBMPTN. Akhirnya, saya mendapat nilai UN yang sangat tidak memuaskan. Inilah yang saya korbankan. Saya harap tidak ditiru oleh pembaca.
Saat pengumuman SBMPTN saya berada di warnet sebelum jam pengumuman. Sambil menunggu, saya memainkan game online favorit saya. Waktu terasa begitu lambat saat saya main game online. Dag-dig-dug. Dan Klik.... saya diterima di jurusan farmasi salah satu universitas ternama di Indonesia. Alhamdulillah.
Menurut saya masuk farmasi tidak seberapa sulit jika kita memiliki strategi. Yang saya maksud adalah strategi dalam menjawab pertanyaan SBMPTN. Jangan menjawab soal yang memang tidak bisa. Dan usahakan jawab setengah jumlah soal atau lebih.
Mengapa saya katakan tidak seberapa sulit? Karena saat saya menjabarkan komposisi soal yang sudah saya jawab kepada teman saya, dia terheran. Wajahnya mengatakan, "Bagaimana bisa dengan jumlah soal yang dijawab sedikit -dibidang TKD- bisa masuk farmasi?". Saya hanya bisa mengucap syukur. Orang yang biasa-biasa saja seperti saya bisa masuk farmasi. Alhamdulillah.
"Atau Passing Grade prodi farmasi yang mulai turun?"
Inilah perkataan teman saya yang mungkin bisa menambah keyakinan teman-teman untuk masuk farmasi. Buktinya, saya bisa masuk :D
Sekian dari saya. Semoga apa yang saya bagikan bagi teman-teman.
Khususnya untuk anak kelas XII, saya tunggu kalian di jurusan Farmasi.
Sampai bye-bye
(https://ceripedia.blogspot.com/2017/08/kulabuhkan-5-tahunku-di-farmasi.html)
Readsd mode at: https://www.brainyquote.com/quotes/authors/h/hippocrates.html


wah keren aku juga farmasi lho.. hampir sama kaya kisahku :)
ReplyDeleteWAh, sangat menginspirasi. Itu seperti kisahku kak. ! T_T
ReplyDeleteAlhamdulillah saya sekarang juga masuk farmasi. Farmasi Unair, kakak farmasi mana?