Summary
Kuroko Tetsuya rela meninggalkan pekerjaannya demi bekerja di kebun
impian. Bagaimana jadinya jika kebun itu telah terjual kepada petani beralis
cabang sejak empat bulan sebelum kedatangannya?
Notification
(o)Fiksi ini berlatar di salah satu game Harvest Moon series; Harvest Moon The Tale of Two Town
(o) Beberapa karakter OOC untuk kepentingan plot dan genere
(o) AU!Farming
(o) Mata uang yang digunakan dalam fiksi ini adalah gold
About Story
Genere : Friendship
Rating : K+
Saya hanya meminjam karakter dari anime Kuroko no Basuke dan meminjam latar dari game Harvest Moon The Tale of Two Town. Dibuatnya cerita ini hanya
bertujuan untuk menyalurkan hobi. Author tidak mendapatkan kuntungan komersial
apa pun dari fiksi ini
Twin Village
Chapter 1
Bibit di Musim
Semi
Story by Akihiro Imaizumi
“Maaf Kuroko-san tapi kebun
yang ada di Bluebell sudah dibeli oleh orang lain. Sekali lagi maaf karena
telah membuat Kuroko-san kecewa,”
wajah wali kota Bluebell sangat menyesal ketika mengatakannya. Bagaimana tidak,
iklan yang beberapa bulan yang lalu ia buat hingga kini masih tersebar. Selain
itu, contact person yang ada di
pampflet itu nomornya sudah tidak aktif.
Di gedung walikota yang juga merangkap sebagai rumahnya ia tengah
menghadapi seorang yang ingin membeli kebun yang sebelumnya telah ia jual,
karena pemiliknya sudah tiada beberapa bulan yang lalu.
Sayangnya sekarang kebun itu sudah terjual sejak empat bulan yang
lalu, tepat tanggal 1 di musim dingin. Seorang petani berambut merah-gelap
dengan wajah sangarnya ingin mengabdikan tangan kekarnya pada hewan-hewan
ternak, sungguh pemuda yang aneh. Mengingat tubuhnya yang kekar tapi ia memilih
kebun yang fokus pada peternakan. Padahal di desa sebelah, Konohana, bisa jadi
akan membantu petani bertubuh kekar itu lebih memaksimalkan daya otonya dengan
sering mencangkul di kebun.
Pemuda berambut biru yang dipanggil Kuroko-san hanya bisa tersenyum, mencoba memaklumi kesalahan fatal yang
dibuat oleh walikota desa yang terkenal akan hasil peternakannya. Susah-susah
ia datang dari kota ke desa terpencil di balik gunung ternyata kebunnya sudah
terjual kepada pemuda berambut merah-gelap. Sial bagi dirinya.
“Saya sarankan Kuroko-san
untuk membeli kebun yang ada di desa Konohana. Disana lebih unggul di bidang
pertaniannya. Mungkin itu kurang sesuai dengan apa yang Kuroko-san harapkan sebelumnya, tapi setidaknya
disana juga bisa memelihara beberapa hewan ternak.” Jelas walikota panjang
lebar.
“Baik saya akan kesana. Terima kasih atas informasinya. Saya izin
permisi,” wajah datarnya membuat sang walikota berpikir bahwa ia marah
kepadanya. Padahal itu bawaan lahir, sungguh Kuroko dulu juga tak berharap
untuk dilahirkan menjadi anak yang minim ekspresi.
Pemuda bersurai biru keluar dari bangunan khas eropa itu. Kakinya
menuntunnya menuju toko roti di sebelah timur bangunan walikota, jaraknya
sekitar lima belas meter. Di atas pintu masuk terdapat tulisan “Yosen Bakrey”.
Beberapa meja kecil serta kursinya terjejer rapi di depan toko roti itu. Di
sebelah barat Yosen Bakrey itu berdiri sebuah stand kecil dengan tulisan papan
nama “Flower Shop”.
Ternyata disini lengkap juga ya, pikir Kuroko. Ia bisa
mempertimbangkan toko bunga itu sebagai pemasok biji-bijian yang ia butuhkan
untuk bertani.
‘Kling,’ suara bel nyaring terdengar saat Kuroko membuka pintu
bakery. Ia lihat bagian dalam bakery ternyata sempit, tapi si empunya bakery
bisa mengolah rumah yang sempit ini menjadi toko. Hebat sekali, beri tepuk
tangan untuk Himuro Tatsuya yang rela membenahi rumah home-matenya tanpa
bayaran sepeserpun. Tapi ini juga ia lakukan sebab ia harus balas budi karena
partnernya itu telah memberikan tumpangan tidur.
“Ano, saya mau pesan vanilla milkshake satu gelas.” Kuroko Tetsuya
menuju counter tempat makhluk raksasa setinggi dua meter itu berdiri.
Sang titan kelihatan bingung dengan suara tanpa badan itu. Ia
mencari ke segala penjuru ruangan tapi tak ia temukan seseorang yang pesan
vanilla milkshake tadi. Apakah rumahnya sekarang berhantu. Hei, ia bukan pandai
besi yang takut dengan hantu.
“Saya disini tuan.” Kuroko mengacungkan tangan. Membuat netra violet
mengarah ke arahnya.
“Jangan panggil saya tuan, kau pembelinya. Sepertinya kamu penduduk
baru ya, Murasakibara Atsushi.” Ucang sang titan ungu dengan mata malasnya.
“Ya, saya petani yang akan membeli kebun di desa Konohana.” Ia
nyamankan pantatnya di salah satu kursi dekat conter.
“Cih, Konohana ya.” Titan ungu itu kemudian sibuk dengan
pekerjaannya. Kuroko masih bisa mendengar kalimat terakhir dari sang pemilik
bakery. Ia tak tahu apa yang dibenci oleh orang yang memilik tinggi di atas
normal itu, tapi ia yakin bahwa masalah itu pasti rumit. Yang pasti sulit untuk
di selsaikan.
Murasakibara mendatangi meja Kuroko dengan segelas vanilla milkshake
di nampan yang ia bawa. Segera ia letakkan minuman yang dipesan pelanggannya,
kemudian bergegas kemabali ke conternya, tempat ia berdiri seharian untuk
mencari nafkah.
Minuman berwarna biru langit itu disedot habis oleh Kuroko. Matanya
melebar ketika merasakan cairan lembut yang melewati tenggorokannya. Segarnya,
tak biasanya ia merasa sehaus ini. Pasti ini karena ia melakukan perjalanan
jauh hingga botol minumannya ia tinggalkan di bus.
Kaki kecil Kuroko melangkah menuju conter. “Berapa gold yang harus
kubayar, Murasakibara-kun?” setelah
dijawab oleh sang koki, Kuroko segera mengeluarkan uangnya. Yah setidaknya
pengeluaran untuk diri sendiri juga penting untuk perawatan mental.
Setelah keluar ia segera pergi menuju pertanian Bluebell. Tidak,
pembaca tidak salah baca kok. Ia memang berniat untuk menyapa seniornya disana.
Bukan berarti ia sudah kenal, tapi ia menganggapnya senior karena lebih dulu
bertani di daerah sekitar sini.
Setelah keluar dari pusat aktivitas desa Bluebell, kuroko segera
menjejakkan kaiknya di kebun yang di gerbang masuknya terlihat tulisan “Maji
Farm”. Kenapa ia menamainya seperti restouran yang ada di kota. Apakah ini
kebetulan mempunyai nama yang sama atau memang sang pemilik kebun yang memang
ngefans dengan penyedia junkfood itu. Kuroko tak peduli dengan itu, tujuannya
disini adalah untuk menyapa petani Bluebell, satu-satunya. Karena disetiap desa
memang hanya ada satu.
Kakinya berjalan di jalan setapak dari batu yang disusun memanjang
menuju pintu rumah sang petani. Rumah itu memiliki atap merah dengan jendela
peresegi yang menghadap ke timur. Pintu keluarnya menghadap ke barat. Mungkin
maksud dari jendela yang di letakkan di sebelah timur adalah agar cahaya matahari
bisa masuk. Mungkin, itu hanya spekulasi pengamatan Kuroko.
Disebelah barat terdapat kandang yang didepannya terdapat hewan
ternaknya, ada sapi dan kambing. Mereka terlihat senang dengan adanya
rerumputan yang hijau dan cahaya matahari yang cerah.
Kandang ayam terletak di timur rumah bergaya Eropa menimalis itu.
Ayam-ayam juga berkotek dengan suka cita, kejar-kejaran dan mandi sinar
matahari. Juga terlihat kucing yang menjaga pintu keluar dari kandang itu.
Di belakang kandang ayam terlihat banyak lebah yang sedang berkumpul
di sarang lebah, bee hut. Lebah-lebah itu mengitari rumahnya dengan cepat, seperti seorang
pekerja kantor yang harus segera samapai tempat kerja agar tidak dimarahi sang
bos.
Mata birunya fokus pada pemuda tinggi berambut merah-gelap yang
sedang bermain dengan anjing di belakang kandang sapi. Di sana kita bisa
menemukan tempat bermain para penjaga binatang, anjing dan kucing. Kucing
sebagai hansip kawasan unggas dan anjing sebagai satpam hewan ternak.
“Ano, Kagami-san.” Sapaan
lembut itu membuat bulu ketiak Kagami berdiri. Perasaan ia tidak bersama
siapa-siapa. Tapi kenapa terdengar suara? Tanya pada diri sendiri.
Kuroko pasrah terhadap reaksi orang-rang kepadanya. Keberadaannya
yang tipis membuat ia seperti hantu jejadian yang siap mengagetkan siapapun. Ia
mencoba legowo atas musibah yang menimpa dirinya baik di masa lalu, sekarang
mauapun yang akan datang.
“Aku di belakangmu Kagami-san.”
Matanya melebar, kemudian membalikkan badan. Mata krimsonnya melihat sosok
pemuda pendek berambut biru dengan koper di tangan kirinya.
1…
2…
Dan…
“Waaa! Sejak kapan kau disana,” ia jungkir balik ke belakang karena
kaget. Sebelumnya ia duduk di pagar kayu buatannya sendri. Kaget membuat
keseimbangannya pecah, jatuhlah ia sejatuh-jatuhnya otaknya, ya dia memang
bebal.
“Aku sudah di sini sejak tadi Kagami-san.” Wajahnya tak menampakkan ekspresi yang kentara. Hanya menatap
sang lawan bicara, dan sesekali mengedipkan kelopak mata. Normal kan?
Sebenarnya itu terdengar normal, tapi jika kau selalu menggunakan wajah
pokerfacemu itu jadi tidak normal Kuroko.
Kagami mengajak Kuroko untuk masuk ke dalam rumahnya tapi ia tak
mau. Katanya ia hanya akan singgah sebentar kemudian pergi ke desa Konohana.
Mendengar teman barunya akan pergi ke Konohana guna menjadi petani di sana
membuat ekspresi wajahnya berubah.
“Kenapa ekspresi Kagami-kun
berubah tiba-tiba?” ucapnya dengan sedikit memaksa lidahnya untuk memanggil sang
tiger ‘Kagami-kun’. Jika tidak ia
akan diberi bogeman mentah. Mengancam Kuroko? Lihat saja nak, pasti akan
dibalas lebih kejam. Persiapkan dirimu Bakagami.
“Eh, kau belum mendengar tentang isu diantara dua desa ini?” Kagami
heran kenapa pemuda kecil berambut biru tidak tahu menahu tentang perseteruan
antara kedua desa dalam satu wilayah ini, Bluebell dan Konohana.
Beberapa detik kemudian Kagami menepuk jidatnya. Ia lupa jika Kuroko
adalah pendatang baru, itulah sebabnya ia tidak tahu dengan konflik yang sedang
panas-panasnya.
“Kedua desa ini saling membenci satu sama lain. Penyebabnya, aku
masih belum tahu. Tapi yang kulihat dari hidup di sini selama empat bulan
adalah permusuhan yang sangat sengit. Perseteruan ini sangat sensitife tentang
masakan. Jadi setiap minggu akan diadakan lomba masak antara kedua desa untuk
membukikan siapa diantara kedua desa ini yang masakannya paling enak. Para
petanilah yang akan menentukan kemenangan terbanyak. Karena petani membawa
hasil kebun yang khas dari masing-masing desa.” Kagami menatap Kuroko. Ia tak
bisa membaca ekspresinya. Ia hanya ingin memastikan kalau bocah bernetra biru
itu paham dengan apa yang baru saja ia jelaskan. Sia-sia menjelaskan hingga
berbusa jika Kuroko tak paham.
“Kau paham kan Kuroko?” Kagami mulai ragu apakah selama ia bercerita
Kuroko menyimak apa yang ia katakan.
Kuroko terus memandang ke tempat para anjing bermain. Kemudian ia
menyadari jika Kagami tengah intens menatapnya, takut dilahap oleh teman
seperjuangannya, ia mengangguk.
“Kagami-kun, boleh aku
meminta satu anjing milikmu?” Kuroko sangat ingin memiliki anjing ras siberian
husky yang tengah menatap dirinya. Anjing itu memiliki bulu berwarna hitam dan
putih serta mata yang mirip dengan mata miliknya.
Mungkin Kagami bisa memberinya satu. Hitung-hitung salam perkenalan,
juga membantu petani seperjuang untuk mengembalikan hubungan antara desa
Konohana dan Bluebell. Kagami melihat ke arah tempat para kucing dan anjing
bermain. Hanya satu yang tidak bermain dengan hewan yang lain, anjing itu
menatap ke arah Kuroko. Jadi ia menebak bahwa Kuroko ingin anjing bermata biru
itu.
“Kau boleh memilikinya Kuroko. Tapi dengan satu syarat,” Kagami
mengacungkan jari telunjuknya. Perkataan Kagami membuat atensi Kuroko beralih
ke pemuda beralis cabang.
“Apa syaratnya?” dengan wajah serius layaknya seorang prajurit
Kuroko bertanya tentang syarat sebelum ia mengambil anjing yang sangat
diinginkannya sejak berumur sepuluh tahun.
-o-
Kini Kuroko berada di rumah walikota Konohana. Sama seperti disana,
bangunan khas Asia ini memiliki dua fungsi, sebagai tempat tinggal dan gedung
walikota.
“Jadi kamu ingin membeli kebun itu?Hm, itu benar jika kami tengah
menjual kebun itu. Tapi bagaimana kamu tahu jika kebun itu tengah dijual?”
pemuda berambut merah menyala tengah duduk sambil menanyai Kuroko.
“Saya mendapat informasi itu dari walikota Bluebell, Aida Riko.”
Jawabnya singkat.
Salah satu mata walikota Konohana itu berubah menjadi warna oranye.
Senyuman tipis tercetak jelas di bibirnya. Jika kau melihatnya kau pasti akan
takut dan diam sejenak merasakan ngerinya seorang Akashi Seijurou.
“Ano, jadi bolehkah saya membeli kebun itu Akashi-san?” Kuroko ingin segera pergi dari
sini. Perubahan sikap yang ditunjukkan pemuda bersurai merah dengan tinggi
hampir sama dengannya, sayangnya masih unggul kepala merah, membuatnya tak
nyaman.
“Ya, kau memang harus membelinya. Karena perintahku itu mutlak.”
Setelah ia berucap, Kuroko lekas memberikan uang yang sudah disepakati. Ia
ingin segera pergi dari bangunan tempat walikotanya itu bekerja. Hawa disini
terlalu mencekam semenjak ia membicarakan tentang Bluebell, ia hanya
membicarakannya sedikit, sedikit sekali.
“Kalau begitu saya pamit undur diri.” Langkah kaki Kuroko terhenti
saat Akashi memanggil nama kecilnya dengan penuh penekanan. Sensitif banget nih
orang, lagi PMS ya? Batin Kuroko dalam hati.
Sebuah buku kecil dilempar ke arah Kuroko, dengan sigap tangannya
menangkap layaknya menangkap bola oranye yang dulu pernah ia mainkan.
“Aku tahu kau cerdas Kuroko. Jadi aku tak perlu memberimu tour untuk
mengenal desa ini lebih jauh. Lakukan sesukamu untuk mengetahui seluk beluk
desa ini.” Ucapnya dengan senyum miring.
Membuat bulu lehernya berdiri. Mungkin dia memang lagi PMS, batin Kuroko
lelah dengan intimidasi dari walikota bersurai merah.
Kakinya keluar dari rumah merah bergaya Asia itu, menuruni tangga
menurun karena letak bangunannya yang lebih tinggi dari bangunan lain. Bergeas
menuju rumah baru yang akan ia huni.
Setelah keluar dari kawasan pusat desa, ia akan menuju pertaniannya.
Kawasan ini sedikit sepi karena hanya ada dua rumah empat jalan. Jika ia
mengambil jalur ke utara ia akan pulang ke rumah barunya. Jika ia menuju arah
barat, ia akan dianatar oleh jalan setapak menuju bukit yang sebelumnya akan
melewati rumah blacksmith, pandai besi. Jika ia memilih jalan ke arah selatan
ia akan menemui lorong yang gelap.
Ia putuskan untuk langsung pulang ke rumah. Ia ingin segera
mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, meminta untuk segera terlelap dan
membakar masalah dunia, meski tidak semua. Karena tidur ada sebagai solusi dari
sebagian masalah. Ya, masalah pribadi tentunya.
Saat dirinya hampir memasuki wilayah kebunnya tiba-tiba sesosok
makhluk berkulit hitam memanggil Kuroko dengan tidak sopannya.
“Woi! Kau yang berambut biru!”
Teriakan itu membuat Kuroko menghentikan langkahnya. Matanya yang
sudah merah ia paksa untuk tetap terbuka, sayangilah nyawa. Bagaimana jika ia
menutup mata tiba-tiba ia jatuh dan kemudian tertusuk sesuatu yang berbahaya.
Ia tidak mau mati konyol seperti itu.
Saat menoleh kebelakang ia temukan seorang pemuda berambut navy-blue
yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. “Kesini,” teriaknya. Dengan terpaksa
Kuroko menghampiri pemuda itu dengan berjalan sedikit kesadaran yang ia bawa.
“Ada yang bisa saya bantu?” Kuroko mencoba untuk tegar. Terus memaksa
mata untuk terus terbuka, guna menghargai orang yang sedang ia ajak bicara.
Pemuda berkulit tan itu hanya tersenyum. Semakin lebar, dan itu
membuat Kuroko takut. Kuroko yakin jika senyum itu tidak ikhlas. Ia tidak tahu
apa yang membuat sang pemuda navy-blue itu tiba-tiba berperilaku aneh, tapi
jika boleh jujur senyumannya terlihat seperti pedofil yang ingin membujuk anak
kecil dengan permen.
“Aku Aomine Daiki, blacksmith paling sukses di desa ini. Dan kau
pasti petani baru itu kan?” ia tiba-tiba merangkul Kuroko dan itu membuat
Kuroko terkejut sekaligus siaga. Jangan-jangan ada maksud jahat dari blacksmith
berwajah sangar ini.
“Ya, saya petani baru yang akan tinggal di rumah di pertanian
Konohana. Tuan, jika tuan tidak niat untuk tersenyum lebih baik jika Anda tidak
tersenyum. Itu bisa membuat wajah Anda lebih tidak menakutkan,” sebenarnya ia
tidak ingin bicara panjang lebar. Tapi jika tidak bisa-bisa ia keburu lari
karena senyuman aneh dari sang pemuda berkulit tan.
Aomine menyerah. Ia juga sudah tidak tahan untuk memberikan senyuman
palsunya. Jangan menyalahkan dirinya yang terlihat bodoh karena tersenyum
dengan orang yang baru ia kenal. Ia terpaksa melakukannya karena kalah
permainan jan-ken-pon dengan teman yang baru ia dapat sekitar empat bulan yang
lalu, pada saat musim dingin.
“Aku menyerah. Cih, Bakagami sialan.” Kuroko menatap Aomine tidak
mengerti. Ia hanya mengerti dari panggilang Bakagami. Ia tidak perlu berpikir
keras untuk menebak siapa orang itu. Ia adalah orang yang memberinya anjing gratisan.
Kuroko tidak mau tahu apa masalah antara petani dengan blacksmith. Ia hanya
ingin pulang ke rumah dan tidur.
“Nama saya Kuroko Tetsuya. Yoroshiku!” Kuroko menunduk kearahnya
guna memberikan salam perkenalan.
“Salahkan Bakagami yang tadi menyuruhku untuk terus tersenyum ketika
bertemu denganmu.”
“Eh, jadi tadi Kagami-kun
ke Konohana?”
“Iya,” jawab sang pandai besi singkat.
“Iya,” jawab sang pandai besi singkat.
‘Cih, kenapa tadi dia tidak mau bilang ke Konohana. Setidaknya ia
bisa menumpangi diriku untuk sampai disini. Setidaknya aku tak perlu untuk berjalan menyusuri bukit
yang pabjang. Huh, sudalah. Tenangkan diri. Kelelahan membuatku lupa diri’,
batin Kuroko dalam hati.
“Tetsu, ayo minum teh ke rumahku. Tak jauh dari sini,” ia memberikan
senyuman yang lebih nyata. Tidak dibuat-buat. Jangan lupakan, ia memanggil
seseorang yang baru ia kenal langsung nama kecil seenak jidatnya, tidak sopan.
Itulah gangguro.
Kuroko adalah anak yang sopan. Keluarganya menuntutnya untuk berlaku
seperti itu, sepertinya ia juga menerima budaya yang seperti itu, meghargai
orang lain. Ia pun tumbuh menjadi anak yang sopan. Karena Kuroko anak yang
sopan ia hanya mengangguk ketika ditawari acara minum teh oleh teman barunya.
Rumah sang blacksmith ternyata memang tak jauh dari perkebunan milik
Kuroko. Mungkin Kuroko bisa meminta bantuan sang blacksmith jika ada sesuatu
yang menurutnya tak bisa ia lakukan.
“Aku akan mengambil daun teh, tunggu disini sebentar,” setelah itu sang
tuan rumah masuk ke dalam rumahnya, meinggalkan sang tamu di beranda rumah.
Angin musim semi membuat Kuroko harus merapatkan pakainnya agar
tidak kedinginan. Matanya terasa sangat berat, ia tidak bisa mengendalikan
tubuhnya. Ia menyamankan dirinya di tatami rumah pemuda tan. Teh hangat
membuatnya semakin nyaman untuk tidur meski ia terlelap di depan rumah, disapu
oleh angin sejuk yang menerpa rambut birunya.
Sekembalinya sang tuan rumah dari dapur, ia melihat petani baru
tidur dengan nyenyaknya. Meski hanya beralaskan bantal tipis yang ia gunakan
sebagai tempat duduk.
Yah, setelah membereskan peralatan minum teh ia akan mengembalikan sang
petani menuju habitatnya (baca : kebun). Ia tak ingin membangunkan sang tamu.
Wajahnya terlihat lelah. Aomine sadar harus menggeledah tas kecil Kuroko untuk
menemukan kunci rumah sang petani.
Selamat tidur Kuroko. Persiapkan dirimu untuk esok, karena esok
adalah hari untukmu mulai berjuang.
AN : Yeah, saya kembali dengan membawa cerita baru. Saya tidak tahu
saya bisa update kapan, tapi saya berharap bisa update cerita ini dua minggu
ini sekali, tapi gak janji.
Saya sangat menghargai review reader, baik itu yang berisi saran
atau pun kritik. Selamat tahun baru *kecepeten woy*. Saya ucapkan sekarang
karena saya tidak mengunggah cerita ini di tanggal satu januari atau
sebelumnya.
Termia kasih sudah mau baca.
December 27, 2015
0 comments:
Post a Comment