Kubiarkan diriuku jatuh. Dalam kesendirian
yang jenuh. Teramat sulit untuk keluar dari lubang masa lalu. Tapi aku tak
boleh jatuh terlalu jauh. Cukup. Aku lelah untuk menyimpan perasaan yang tak
pernah terungkapkan. Haruskah aku bicara. Tak bisakah ia yang lebih dahulu
menyapa.
Kenapa? Setiap aku melewatiny bahakan ia
seperti tak tahu siapa yang melewati di depan matanya. Seperti tadi siang.
Diamana ia menggunakan jaket hitam. Berjalan cepat, seolah memang ingin
menghindar.
Ah, atau mungkin aku yang terlalu egois.
Aku terlalu sibuk dengan pikiran-pikiranku yang tak logis. Hanya memandang diri
sebagai korban tragis. Dan tak sadar banyak alasan yang membuatnya pergi dari
duniaku. Alasan kenapa ia tak bisa dihubungi. Alasan kenapa ia tak menyadari
aku berjalan di depannya.
Mungkin saja ia mempunyai sebuah alasan
untuk setiap pertanyaan yang kulontarkan. Ya, itu semua mungkin. Bagaimana
tidak? Dunia ini terlalu menarik dengan kejadian-kejadian kebetulan. Bahkan
kebetulan yang menyakitkan.
Kutolehkan kepalaku ke belakang, guna
melihat jam kelas yang terus berdetak. Kurang sepuluh menit lagi jam kuliah
selesai. Setelah itu aku akan segera pulang. Mengistirahatkan tubuh yang sejak
kemarin meminta jatah untuk sejenak berbaring menutup mata.
“Kuroko-san,” panggil dosen bahasa inggris.
Aku menghentikan langkahku.
“Ada sebuah surat untukmu,” ia perlihatkan
sebuah amplop putih kecoklatan dengan tinta merah di atasnya. Tanpa berpikir
panjang surat itu telah berpindah tangan. Setelah berucap terima kasih aku pun
pergi. Meski aku benar-benar penasaran dengan isinya amplop misterius ini tak
kunjung kubuka. Tubuhku sudah meronta-ronta untuk meminta jatah istirahat.
Sampai di rumah, tas terlempar ke kasur
berseprei biru lau. Kurebahkan tubuhku di atas kasur empuk. Melepas penat.
Meninggalkan kesadaran, terlelap.
-o-
Deringan nyaring telepon membuatku
terbangun. Telepon flip berwarna hitam terambil tanganku. Sebuah pesan dari
nomor tidak dikenal terlihat di notifikasi. Karena penasaran ku pencet tombol
‘open’.
‘Aku menunggumu’
Terkirim pada jam tiga sore. Sekarang sudah
jam tujuh malam. Dimana matahari telah waktunya untuk beristirahat. Yang
berarti sudah sejak empat jam yang lalu ponsel flip ini berdering. Bar daya
batrei terlihat berwarna merah, kehabisan daya karena terus berteriak untuk
membangunkanku. Nomor yang tak kukenal malas untuk membalasnya.
Kuambil kresek hitam berisi pakaian ganti
yang sengaja kubawa untuk acara senam tadi pagi. Surat putih kecoklatan
menyembul diantara buku-buku. Ah, aku lupa ini kan sura yang diberikan oelh
dosenku saat matkul sastra tadi siang.
Surat lusuh itu kini telah sobek bagian
kepalanya. Telah terkoyak hingga mengeluarkan kertas buku tulus yang terlipat
rapi. Dibagian pojok kanan atas terdapat tinta merah bertuliskan KT.
KT? Apa lagi ini. Belum kubaca saja aku
sudah tak mengerti dari dua hurufnya. Langsung baca saja lah.
-u-
Lama tak jumpa ya?
Sudah lama aku tak melihatmu. Menatap
netra birumu yang membuatku candu. Bahkan otakku tak bisa menghilangkan
bayangmu dalam pikirku.
Maaf jika perkataanku lancang. Tapi
kupikir ini adalah waktu yang lebih tepat. Karena kita berduasudah berusia
matang. Jadi tak masalahkan jika aku mengungkapkan rasa sukaku?
Maafkan aku karena telah meninggalkanmu,
tanpa jejak. Sebenarny aku hanya tak ingin melihat wajah sedihmu ketika aku
berkata aku akan pergi untuk kuliah. Dan sekarang aku baru sadar bahwa aku
salah. Salah karena tak berpamitan kepadamu.
Untuk itulah aku mengirimu surat ini.
Untuk melihatmu. Saling bertemu melepas candu-meski untuk sementara-. Karena ketika
jauh darimu, candu itu kembali menghampiri, bahkan lebih kuat lagi.
Nanti jam tiga sore. Tepat setelah
detang jam kota berbunyi tiga kali, kuharap kau datang menemuiku.
Sincerllly
Kagami Taiga
-u-
Perasaan lega membuat Kagami membentangkan
tangannya. Seraya menghirup udara dalam-dalam. Menimati ringannya hebmbusan
nafas, yang tak seperti hari-hari sebelumnya. Hari dimana dadanya sesak penuh
rasa bersalah.
Kertas yang baru saja ia sobek dari buku kuliahnya
sekarang sudah penuh oleh barisan kalimat, yang ia susun sedemikan rupa agar
enak dibaca oelh gadis yang sering berkunjung di mimpinya.
Setelah ini ia akan memberikan surat ini
kepada dosen Kuroko –ia sudah mengetahui informasi ini dari Momoi-. Ia tak bisa
memberikanny langsung karena ia juga ada kuliah siang hingga malam. Tapi ia
hanya akan mengikuti matkul siang hingga sore. Karena jam tiga sore nanti ia
sudah harus memenuhi janji.
Surat itu sudah terbungkus kertas putih
kecoklatan dengan rapi. Siap untuk diantarkan. Tak membutuhkan waktu lama ia pun
berangkat menuju kampus gadis sang penyuka vanilla shake. Kini surat itu pun
sudah berpindah tangan.
Pemudah bersurai merah itu pergi dengan
perasaan lega. Setelah ini akan ada matkul kimia pangan. Ah, pelajaran
kesukaannya. Dengan semangat ia akan melahapnya.
-u-
Seorang pemuda bernetra merah menatap jam
di tangan. “Sudah jam setengah empat, kenapa ia belum datang? Ah, mungkin
sebentar lagi,” batinnya dalam hati. Ia terus terlihat seperti orang bingung.
Selain karena takut Kuroko Tetsuna tak datang, ia juga lelah karena kulah siang
tadi.
Akhirnya mata merah itu tenggelam dibalik
kelopak mata. Melepaskan jiwa dari raga menuju mimpi fana.
-o-
Kaki kecil itu berlari. Rambut biru yang ia
kuncir melompat ke kanan-kiri. Tapi tak peduli. Tas kecil mepnyampir di tangan
kiri, hanya bermodal itu ia datang kemari, taman kota yang sedikit sepi untuk
malam ini. Tapi jangan kira tas itu ringan. Banyak buku yang ia bawa hingga
memenuhi tasnya.
Mata saphire itu mencari. Diantara bangku
taman. Diantara lalu lalang para pejalan kaki. Diantara semak belukar yang bisa
ia temui.
Saat ditengah taman kota, dimana air mancur
menghiasi, matanya memandang pemuda bersurai merah yang bersandar pada pohon.
Tertidur nyenyak, layaknya bayi yang kelelahan menunggu hadiah dari ibunya. Ia
hampiri dengan langkah pelan, takut membangunkan sang surai merah.
“Kagami-kun!” suara lembutnya membangunkan sang pemuda.
Mata merah itu terbuka tak percaya. Sosok gadis yang ia claim miliknya ada di
depan mata.
Mata bertemu. Tak ada perasaan semu. Hanya
kesucian yang mengisi hati. Saling mencintai.
“Kuroko! Ayo kita duduk dulu,” berdiri,
mengucek mata, kemudian mengibaskan tangan ke arah celana yang kotor oleh
tanah. Pemuda itu berjalan menuju salah satu bangku yang mengitari air mancur.
Dibawah lenter kuning yang menaungi pengunjung.
Diantara mereka berdua hanya ada kesunyian.
Sebelum sebuah suara kecil meminta maaf dengan nada bersalah.
“Maaf, aku datang terlambat,” ia hanya bisa
menunduk. Menunggu jawaban dari sang “tiger”. Berbeda dengan gadis penyuka
vanila yang menunduk, pemuda itu malah mengacak surai biru itu sambil tertawa.
“Ini tak seberapa lama dari pada kamu yang
menunggu bertahun-tahun,” entah kenapa apa yang di katakan Kagami ini benar
seperti kenyataannya. Kuroko Tetsuna menunggu kepulangannya. Pemuda itu menatap
netra biru.
“…” hanya bisa membisu.
“Maukah kamu menerima sesuatu dariku?” tangan kekarnya merogoh kotak dalam saku.
Atensi sang gadis berpindah dari datarnya tanah menuju tangan sang pemuda.
Ketika dibuka, kotak kecil berwarna biru itu menampakkan cincin rubi. Berwarna
merah menyala.
“Hm,” wanita itu mengangguk. Kemudian
menggeleng, bermaksud ingin menyadarkan dir agar tidak mengulangi kesalahan di
masa lampau. Dimana ia hanya menjawab dengan anggukan, dan sang “tiger” –ia
anggap- tak mengerti.
“Ya, aku menerimanya,” semburat merah
mampir di pipi mereka masing-masing. Sang pemuda, yang kesehariannya memang tak
bergelut dengan yang namanya cinta, melenggang pergi untuk membeli vanil.
Mencoba untuk menghilangkan kegugupannya.
Sang “tiger” kembali dengan dua buah gelas
ditangan. Gelas itu berwarna putih dan merah –dengan gelembung di dalam gelas
merah-. Tiba-tiba saat di depan gadis, kaki pemuda tersandung sesuatu –tas
berisi banyak buku tebal- hingga ia terjatu ke depan.
‘Brak!!!’
‘Hm! rasa vanila!’ pikir sang pemuda
Jangan dibayangkan apa yang tak sengaja
mereka lakukan.
-end-
AN : Akhirnya selesai juga. Makasih yang
sudah mau mensupport saya dengan memberika review. Arigatou gozaimasu
*bungkuk-bungkuk*
0 comments:
Post a Comment