Monday, 28 December 2015

Asotokara : Noda di Musim Semi (chap 1) | Original Fiction



Hamada, seorang pemuda yang cerdas dan memiliki semua jenis warna. Semenjak peristiwa buruk yang menimpanya, ia bertekad untuk menjadi kuat, melindungi yang lemah.

Asotokara
Chapter 1
‘Noda di Musim Semi’
Story by Akihiro Imaizumi

Keringat menetes, nafas tak beraturan, kuambil smartphone di saku untuk melihat stopwatch yang sudah kunyalakan sejak pertama kali kaki menginjak pedal sepeda dari rumah. Di smartphone itu terdapat angka 14:30. Targetku tak bisa kucapai. Yah akan kucoba lagi besok, hingga aku bisa melampaui targetku sendiri.

Perjalanan bersepda ke sekolahan dari rumahku membutuhkan waktu kurang lebih dua puluh menit. Aku mempunyai target untuk sampai di sekolah sebelum menit ke lima belas. Setidaknya aku bisa memanfaatkan waktu lima menit untuk sesuatu yang berguna, seperti mengoreksi PR yang kukrjakan semalam.

Lima ratus meter dari sekolah ke arah timur terdapat stasiun kereta. Tempat itulah dimana para murid muncul. Yang rumahnya jauh dari sekolah biasanya akan menaiki kereta, ada juga beberapa siswa yang diantar dengan mobil pribadi. Dan yang rumahnya dekat bisa menaiki sepeda atau berjalan kaki.

Rutinitas ini akan berubah ketika semua siswa kelas satu sudah diwajibkan tinggal di asrama, sekitar tiga bulan setelah awal masuk sekolah.  Kelas dua dan tiga pun sudah mulai wajib tinggal di asrama ketika awal semester dua kelas satu.

Suasana jalanan menuju sekolah menjadi ramai, siswa bercanda dengan temannya, yang semuanya adalah kelas satu. Mata saphireku menangkap banyak tubuh siswa yang dibalut jaket berwarna-warni. Awal musim semi memang waktu yang sangat tepat untuk memakai jaket. Guna menghadang rasa dingin yang menusuk tulang.

Kutambah kecepatan sepedaku. Tubuhku terasa hangat, juga tetes keringat yang menuruni dada, yang kemudian hilang merembes ke seragam. Kulihat beberapa kakak kelas berbaju olahraga  yang kukenal saat ujian masuk sekolah, senyuman pun kuberikan kepada mereka. Kakak kelas yang ditugaskan pada saat ujian masuk kelas satu adalah anak pilihan. Mereka mempunyai bakat dan prestasi yang membanggakan sekolah.

“Crat!”

Kubangan air membuatku kehilangan keseimbangan. Berhenti sejenak di bibir jalan dan mengecek pakaian yang ku kenakan. Untung saja bajuku tidak kotor oleh noda. Jarang-jarang aku menyetrika baju, jika baju ini kotor, waktu menyetrika tadi malam sangat kusesalkan karena sia-sia saja jika aku menyetrikanya berakhir dengan noda yang tertempel di seragamku.

Eh, ada seorang siswa di dekat kubangan air yang tadi kulewati. Ia terdiam, tangan pucatnya mengambil sesuatu dari saku celana. Ia gosok noda di rompinya dengan saputangan yang ia bawa, noda itu tak kunjung hilang, meninggalkan bekas coklat di bajunya.

Sial! Aku tak menyadarinya sama sakeli, ku kira tadi tidak ada siapa-siapa. Aku turun dari sepeda, menghampirinya yang sedang serius dengan noda.

“Maafkan aku,” aku membungkuk sambil tanganku memegangi sepeda agar tidak roboh.  Ia menatapku, wajahnya begitu serius. Eh, matanya berwarna biru gelap dan merah gelap. Aneh.

Ia hanya menatapku, sesekali berkedip. Kugaruk belakang kepalaku, gugup. Aku tak mengerti dengan ekspresi wajahnya.

“Maaf, aku benar-benar tidak melihatmu.”

Tidak ada respon, ia hanya berkedip melihatku. Kemudian ia menganggukkan kepala. Dia memaafkanku?

“Ayo naik di belakangku. Kamu hanya perlu memegang pundakku dan nikmatilah perjalananmu, hehe,” ucapku tiba-tiba saat ia hendak kembali membersihkan noda di rompinya.

Ia masukkan saputangan jingga ke dalam saku. “Tidak perlu repot-repot. Aku sudah memaafkanmu,” ucapnya pelan. Sangat pelan, yang jika aku tidak melihat pergerakan bibirnya pasti aku tak mengerti apa yang ia katakana.

“Jika kamu tak mau karena kamu sudah memaafkanku. Maukah kamu kubonceng sebagai salam pertemanan,” huh, ternyata ia tahu aku masih menyimpan penyesalan. Aku tesenyum kepadanya seraya mengangguk, mencoba merayunya agar ia mau kubonceng.

“Namaku Hamada kelas X-S,” ia naik ke panjatan belakang sepeda. Tangannya berpegang pada bahuku. Kaki bersepatu putihku mulai mengayuh.

“Kei kelas X-C.” keheningan mulai menjalar diantara kami. Tak ada yang dibicarakan, entah ia sedang apa. Tapi satu tangannya tengah membawa sesuatu. Aku tau karena ia hanya berpegangan pada  satu bahu. Kulirik sedikit untuk melihat apa yang ia lakukan, oh, buku. Aku mengangguk kecil.

“Kamu suka membaca?” tanyaku pada pemuda kecil yang tingginya lebih pendek sepuluh sentimeter dariku. Ia hanya menjawab, ‘ya’, dengan suara yang pelan. Beberapa kali tangannya bergantian untuk membawa buku.

“Aku bersekolah ke sini karena sekolah ini adalah sekolah yang menurutku sangat hebat. Setiap tahun sekolah ini pasti akan mengeluarkan perwakilan untuk mengikuti lomba perebutan gemstone. Di pertandingan itu kamu bisa menguji seberapa kuat dirimu. Itulah ambisiku, menjadi kuat,” meski bukan hanya itu, tambahku dalam hati.

“Semoga kamu mendapat yang terbaik,” tangannya kembali menyentuh kedua bahuku. Kurasa ia sudah memasukkan bukunya kembali, ke dalam tas punggung biru-donkernya.

Perjalanan kami menuju sekolah begitu tenang, ia bisa membuatku diam. Bahkan aku tak lagi mengeluarkan kata-kata apapun sejak jawaban yang ia berikan, tentang tujuanku  masuk ke sekolah terkenal ini. Biasanya aku akan berkicau bagaikan anak burung yang baru menetas. Terus bicara hingga berbusa, hahaha, aku bercanda. Bisanya obrolan akan terus mengalir selama aku memiliki topik untuk dibahas. Jika aku sudah tak memilki topik untuk didibahas maka pembicaraan akan berakhir saat itu.

Tapi saat ini ia seperti menyamankanku di dalam kesunyian. Aku tak perlu bicara. Menikmati apa saja yang dilihat mata, terus mengalir dalam waktu.

Hap, beban di balakang menghilang, Kei turun dari sepeda.  Kutuntun sepeda berwarna merah menyala. Kei berjalan di sisi lain sepeda. Kakinya berhenti, “Aku pergi ke kelas dulu. Terima kasih tumpangannya.” Kulambaikan tanganku, seraya tersenyum kepadanya. Ia membalas dengan senyum, meski aku tak yakin itu bisa disebut dengan senyum karena lengkungan bibirnya hampir terlihat lurus. Entahlah, aku tidak tahu standar seseorang dikatakan tersenyum.

Kuletakkan sepeda di parkiran khusus sepeda roda dua. Parkiran di sini luas, sayang hanya digunakan sebagian karena muridnya yang tidak membutuhkan kendaraan untuk menuju sekolah. Asrama terletak tak jauh dari sekolah. Para kakak kelas bisa jalan kaki untuk mencapainya.

Kulangkahkan kakiku secepat mungkin menuju kelas, tapi kuusahakan tidak berlari, itu sangat mengganggu ketenangan sekolah. Kulihat jam di smartphone, kurang empat puluh menit lagi sebelum bel berbunyi.

Aku mempunyai banyak target yang harus ku selesaikan. Target itu harus kucapai, sebagai wujud aku harus terus berkembang untuk terus menjadi kuat. Kau tahu, untuk menjadi kuat tak melulu latihan yang berhubungan dengan memberatkan fisik. Kamu juga harus mengasah hal-hal kecil yang kamu lakukan seperti nilai sekolah yang harus kamu pertahankan meski kamu mengikuti kegiatan ekstra.

Itu adalah salah satu bentuk disiplin diri yang sangat dibutuhkan untuk menjadi kuat. Dan aku yakin aku bisa mendapat kekuatan itu.

Kau bertanya kenapa aku terdengar terobsesi dengan kekuatan?

Coba pikirkan kataku baik-baik. Kata ayahku aku bisa mengubah dunia. Itu yang dikatakan beliau saat usiaku meninggalkan balita. Syaratnya, aku harus bisa menjadi kuat. Dengan kekuatan itu aku bisa melindungi seseorang yang lemah.

Tak seperti dulu, saat aku masih kecil. Aku tak mempunyai kekuatan dan membiarkan satu nyawa melayang.

 Saat itu aku masih berumur sepuluh. Kakiku melewati taman dengan tangan membawa mainan. Aku mendapatkannya dari hasil menyisihkan uang jajan. Hatiku sangat senang, hingga membuatku tak fokus pada jalanan. Tubuh lebih kecil menabrakku. Membuat mainanku jatuh bersamaan dengan elf kecil yang meinta maaf.

Mata emeraldnya menyiratkan ketakutan. Pupil itu mengecil, rasa takut membuat tubuhnya gemetaran.

“Kamu kenapa?” kupegang erat pergelangan tangannya. Ia bertambah takut, padahal aku memegangnya karena takut ia jatuh tiba-tiba. Rambut jingganya bergoyang karena terus meronta, meminta secara tak verbal untuk dilepaskan. Air mata mengalir dari sudut mata menuruni pipinya. Entah kenapa tanganku mengendor melihat matanya. Aku yakin dari tatapan matanya, ia dalam bahaya.

Mengetahui ia bisa lepas dari cengkraman tanganku, sekuat tenaga menjauh dariku. Melewati jalan yang telah kulewati sepulang membeli mainan. Kakinya terseok-seok, membuatnya jatuh tersungkur beberapa kali.

Tiba-tiba seorang bertudung hitam muncul di depannya. Tak membiarkan sang elf melewati jalannya. Sang gadis ketakutan, wajahnya pucat, aliran air mata bertambah deras.

Jantung dalam dadaku berdetak lebih cepat. Pikiran buruk terngiang dalam kepala. Kakiku berlari ke arah sang elf, yang sebelumnya melewati sang pria bertudung dengan melompatinya. Kupercepat lariku saat sang bertudung hitam mengejar gadis elf itu, tidak, ia tidak mengejar, ia hanya berjalan. Tapi ia berpindah dari satu tempat ke tempat lain, ia menggunakan sihir, tapi aku tak tahu sihir apa.

Aku terus mengejar mereka berdua. Hinga akhirnya kejar-kejaran itu berakhir di gang buntu. Gelap, diantara gedung-gedung pencakar langit yang tak memperbol ehkan cahaya matahari masuk. Juga sampah rumah tangga yang berserakan beserta penghuninya, hewan pengerat.

Aku menggunakan sihirku, teleportasi. Ayah yang mengajarkanku. Aku bisa berpindah ke tempat orang yang kusentuh beberapa detik sebelum menggunakan sihir itu. Batas rentang waktu yang kupunya untuk menggunakan sihir itu hanya tiga puluh detik setelah aku menyentuhn ya.

Aku mendekati sang gadis. Seseorang bertudung hitam semakin mendekat. Sialnya aku karena belum diajari ayah sihir penyerangan sama sekali.

Tiba-tiba langit yang biru berubah menjadi kelabu. Tetes air yang hendak jatuh terhenti seketika di tengah perjalanannya. Burung terbang tiba-tiba berhenti mengepak, tapi ia tetap diatas sana, tidak jatuh. Aku tidak bisa bergerak sama sekali, kecuali mata yang terus mengawasi. Semua benar-benar berhenti.

Seseorang bertudung hitam menjulurkan tangan kanannya. Kunai hitam solid keluar dari lengan jubahnya. Aku bisa melihat mata merah menyala dari tudungnya. Kunai hitam itu melesat ke arah sang elf yang diam. Kuamati sejak tadi ternyata matanya tak bisa bergerak sama sekali. Tatapannya kosong.

Celaka!

Darah segar keluar dari luka di dada sang elf kecil. Liquid merah berbau besi itu melayang. Tak jatuh oleh tarikan gravitasi. Mataku melebar melihatnya, aku merasa sesak. Aku ingin menangis. Kunai dengan cipratan darah segar itu di arahkan kepadaku.

Kedua kalinya kunai itu melesat, ‘trang’, aku tak mendapati kunai itu menusuk tubuhku. Rasa takut dikalahkan oleh rasa penarsaran yang timbul karena mendengar kunai yang bersinggungan dengan benda keras. Kubuka mataku, prisai berwarna-warni melindungiku.

“Objek tidak bisa dihancurkan,” ucap pria bertudung hitam itu, tunggu, suaranya terdengar janggal sekali.

Tiba-tiba langit kembali berwarna biru, aku bisa menggerakkan tubuh, disusul suara batuk disampingku. Kulihat elf bersurai jingga itu terbatuk-batuk, menyipitkan mata menahan rasa sakit yang bersarang di dada.

Kulihat ke tempat pria bertudung hitam tadi berdiri, ia sudah kabur menggunakan sihirnya.

“Aku akan panggil ambulance,” kukeluarkan telepon genggam yang bersarang di saku. Kebetulan ayah mau meminjamkan HPnya agar ayah bisa menjemputku setelah sekolah. Tapi aku tak menggunakannya karena aku akan mempir ke toko mainan. Dan aku yakin beliau pasti sedang sibuk dengan komputernya.

Tiba-tiba tubuh kecil elf roboh ke penagkuanku. Noda darah mengotori seragamku. Oh tidak! Ku pegang urat nadi di lehernya, nihil. Aku tak merasakan denyutan. Bagaimana ini, haruskah aku memanggil polisi? Tapi aku tak tahu nomornya. Ayah? Ya, ayah mungkin tahu apa yang harus kulakukan.

Ya, ayah adalah pilihan terbaik. Kontak dalam handphone ku acak-acak. Aku bahkan lupa dengan fitur pencarian nama berdasarkan inisial.

(Gadis elf sedikit demi sedikit terkikis…)

Pikiranku kacau. Informasi yang seharusnya mudah didapat menjadi berbelit.

(…lingkaran sihir mengelilingi tubuhnya…)

Dapat! Suara tut beberapa kali terdengar, kemudian di susul suara ayah.

(…tubuhnya mulai menjadi serpihan hologram…)

“Halo?”
“Ayah! Aku ada di jalan buntu dekat taman kota”
“OK. Tetap disitu. Jangan kemana-mana dan jangan melakukan sesuatu yang mecurigakan” ia ternyata tau apa yang kurasakan. Bahkan tanpa aku menceritakannya.
“Iya”
“Sepuluh menit lagi ayah akan sampai disana”

(…tubuhnya bercahaya…)

Kulihat parasnya, begitu polos. Wajah takut yang tadi kulihat kini sirna. Wajahnya  tenang, terlihat damai.

(…tubuhnya hilang dan sirna.)

Ayah datang, memelukku. Pelukan yang sangat erat, membuatku merasa aman. Hangat. Sejenak kulupakan rasa takut dan ngeri yang tengah menghampiri. “Ceritakan dirumah,” ucapnya lembut seraya menggenggam tanganku menuju mobil hitam yang menunggu di ujung lorong.

Sampai dirumah ibu memelukku erat. Ia menangis walaupun aku belum bercerita apapun. “Syukurlah Hamada-chan tak apa,” aku hanya diam. Nyaman dalam pelukannya.

Kemudian ia menyuruhku mandi dan mengganti baju yang ternodai oleh darah. Secangkir susu coklat tersedia di meja makan, aku meminumnya. Dari belakang ibu menyelimuti diriku dengan kain tebal.

Ibu kembali ke dapur, meneruskan kegiatan memasaknnya yang tertunda. Kini hanya ada aku dan ayah di ruang makan.

Kuawali cerita tentang gadis elf yang tak sengaja menabrakku di tengah taman kota.kemudia muncul pria bertudung hitam yang mengejarnya. Berakhir dengan kunai yang merenggut nyawa sang elf.

“Hamada, dunia sekarang terlalu banyak berubah. Banyak orang yang menjadi jahat karena keegoisan mereka. Penculikan pembunuhan, dan masih banyak kejahatan lain yang bercokol dari rasa ego. Gadis kecil yang menabrakmu pasti berhasil kabur membawa informasi penting hingga bos mereka rela membayar seseorang  untung membubuh anak itu agar informasi tentang organisasi itu tidak bocor.”

“Oh, iya yah. Tadi saat di gang buntu, pria bertudung itu sepertinya menggunakan sihir yang membuat semuanya berhenti. Aku bahkan tidak bisa menggerakkan tubuhku, tapi aku masih bisa mengamati keadaan sekitar. Kulihat elf itu tidak bisa menggerakkan mata seperti ku,” kelimat terakhir membuat mata ayahku melebar.

“Itu adalah sihir untuk memanipulasi waktu. Sihir itu bisa menghentikan waktu dalam jangkauan tertentu, dan membuat orang yang diluar daerah itu melihat seperti tidak terjadi apa-apa di daerah sihir itu. Sihir itu hanya dimiliki oleh dark elf. Elf berkekuatan hitam. Kekuatan sihir yang tidak dimiliki manusia.”

“Tetapi manusia memiliki sihir yang bisa mengatasi kekuatan itu, yaitu kekuatan banyak warna. Tak banyak manusia yang memiliki banyak warna. Kamu tahu kan, seharusnya manusia hanya bisa memilki satu warna. Orang yang memilki banyak warna biasa disebut, Nijinin. Berasal dari kata niji yang berarti pelangi. Kamu sepertinya memiliki kekuatan itu, karena itulah kamu masih bisa menggerakkan matamu saat ada di area sihir penghenti waktu.”

Mulai saat itu aku sadar bahwa untuk melindungi orang lain aku harus lebih kuat. Tuhan juga telah memberiku kesempatan untuk merasakan banyak warna. Aku tidak boleh menyianyiakannya.

“Selamat pagi,” ucapku saat masuk ke dalam kelas. Aku tak mengharapkan jawaban karena ini masih terlalu pagi untuk berangkat. Jadi kukira akulah orang yang pertama kali sampai di kelas perdana ini.

“Selamat pagi,” jawab seorang perempuan. Kulihat ia duduk di pojok kelas, buku tebal masih menarik atensi sang gadis, tak mau membuang waktu untuk melirik padaku. Yah, kukira aku yang pertama.

“Namamu siapa?” aku duduk di kursi depan mejanya, membaliknya sehingga aku bisa bertatapan dengan gadis beriris jingga. Rambut merah yang ia gerai membuat tubuhnya yang kecil terlihat lebih besar.

Ia menghentikan kegiatannya, menoleh padaku sebentar, ”Izumi,” kemudian kembali membaca. Ia mengindahkanku bagaikan lalat yang numpang lewat. Aku tak biasa diacuhkan, mungkin aku harus belajar menarik perhatian seseorang.

“Errr, maukah kamu menjadi temanku?” ucapku sambil menggaruk rambut yang tidak gatal. Menatapnya tanpa kata membuatku canggung. Sudah dua kali aku bertemu dengan orang pendiam. Sulit juga berbicara dengan tipe orang seperti mereka. Diajak bicara sekalipun jawabannya sangat singkat, tidak asyik.

“Hm, boleh, kita kan memang teman sekelas,” ia masih belum menoleh ke arahku. Serius sekali ia membaca. Atensiku kalah dengan buku tebal yang ia bawa. Aku salah tingkah.

“Nee, Izumi-chan, jangan bersikap dingin seperti itu. Nanti tidak punya teman, loh,” suara pria terdengar datang dari pintu kelas. Terlihat remaja seusiaku berjaket kuning dengan warna hitam yang berjalan ke pojok kelas, tempat aku dan Izumi duduk. Semakin dekat aku masih bisa mendengarkan lagu yang ia putar, ia memutar lagu yang ritmenya cepat. Senyumnya mengembang.

“Yo! Hide,” ia menjabat tanganku. Tangannya dingin sekali, pasti tadi ia tidak menggunakan sarung tangan.

“Hamada,” jawabku singkat. “Kalian beruda sudah saling kenal?” tanyaku pada pemuda berambut kuning jabrik di depanku, saat ini aku menghadap ke samping. Aku sudah menyerah –hanya untuk pagi ini- menarik perhatiannya, ia sama sekali tak mempunyai minat berbicara denganku.

“Hamada? Oh, kamu siswa yang memilki nilai tertinggi ujian masuk baik di nilai akademik dan nonakademik. Woh, beruntung sekali aku sekelas denganmu.” Ia tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya.

“Iya, hahaha,” aku tersenyum canggung. Reaksinya membuatku malu, apalagi disini ada perempuan. Bisa-bisa aku dikira pamer. Ah, tidak, aku tidak mau imageku di depan orang lain turun. Itu terlalu membahayakan misiku untuk menjadi penolong orang yang lemah.

Kulirik gadis bersurai merah , ia sama sekali tak memperhatikan aku dan Hide yang sedang bicara. Bahkan sepertinya ia bertambah serius untuk mempelajari apa yang ia baca. Hidoii, setidak penting itukah diriku di mata wanita. Menyedihkan.

“Jawaban untuk pertanyaan adalah ‘ya’. Aku dan Izumi-chan dulu satu SMP. Dia anak yang pintar, meski terkadang ia konyol dengan caranya sendiri.” Ia memasukkan headset yang ia pakai ke dalam tas.

“Diam atau aku akan membuatmu menyesal atas apa yang kau ucapkan,” mata merahnya berkilat menatap Hide. Tiba-tiba suhu ruangan turun, aku yakin itu bukan perasaanku saja karena kulihat Hide menggosok-gosokkan telapak tangannya.

Keringat menuruni pelipis Hide. Ia tersenyum dengan mata menyipit. Aku tahu ia panik. Setakut itukah ia pada wanita bernama Izumi. Bukannya aku tidak takut hanya saja, mungkin apa yang Hide rasakan berbeda dengan apa yang kurasakan.

Aku kagum pada kekuatan yang dikeluarkan oleh Izumi. Setiap kelas ada sistem yang membatasi kekuatan penggunanya. Tapi tidak bagi Izumi, kekuatannya bisa menghancurkan dinding pembatas yang diberikan oleh sistem.

Disetiap tempat terdapat sistem yang membatasi penggunaan kekuatan. Khususnya tempat umum dan pemukiman. Karena bahaya sekali jika kekuatan bisa digunakan di sembarang tempat. Dunia ini tidak akan setentram sekarang.

“Aku minta maaf. Maafkan aku Izumi-hime. Aku menyadari kesalahanku,” ujarnya seraya berlutut di depan Izumi. Wew, apakah Izumi berasal dari keluarga yang terkenal?

“Hei, Kau tidak usah melakukan itu. Berdirilah, baka!” wajahnya semerah buah tomat. Matanya memandang ke arah taman. Ternyata ia gadis yang pemalu, hihihi.

“Tapi Izumi-hime belum memaafkan aku,” ia masih bersimpuh di lantai, aku tau wajahnya yang memelas itu hanya dibuat-buat. Licik sekali pemudia berambut durian kuning ini.

Izumi memandang ke arah Hide bersimpuh, “Ya, aku memaafkanmu. Sekarang berdirilah! Jangan melakukan itu lagi.” Wajahnya masih memerah. Imutnya, hahaha, ternyata ia memang gadis yang pemalu, meski tampilan luarnya ia seperti seseorang yang garang ternyata ia mudah digoda.

Yah, mungkin masa-masa SMAku tidak semembosankan seperti yang kupikirkan.

Author Note : Maaf karena telat update, padahal niatnya publish dua minggu yang lalu, eh malah molor. Mungkin update dua minggu sekali aja kali ya, biar saya gak terlalu panic –karena dikejar deadline- saat menulis fiksi ini.

Saya sangat menerima kritik dan saran. Terima kasih sudah mau menyempatkan waktu untuk membaca.
                 

0 comments:

Post a Comment