Kericuhan adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan ruang
kelas yang kini dipenuhi oleh murid-murid. Kelas itu memiliki bangku yang
sedikit menghimpit siapa pun yang memiliki badan lebar.
Penyebab kericuhan tersebut adalah karena seorang atau
beberapa anak yang membuat guru menangis. Untuk meredam masalah tersebut kami
-murid satu kelas- mengaku bersalah, padahal aku baru mengetahui masalah
tersebut beberapa menit yang lalu. Kata salah satu temanku, "Jika yang
mengaku salah semua anggota kelas, bisa memperpendek masalah," aku hanya
mengangguk menanggapi ucapannya.
Dalam kelas terasa sangat pengap, semua murid kelas tersebut
tengah berkumpul disitu. Membicarakan tentang masalah yang baru saja keluar
dari oven. Setiap siswa berbicara dengan teman sekelompoknya, ya, teman-temanku
akan membentuk kelompok jika mengobrol. Dan suara yang diciptakan bukan hanya
bisa disebut berisik, ini semua terlihat seperti suasana pasca-bencana.
Beberapa menit kemudian seorang guru matematika kami,
berbadan subur menggunakan kaca mata sebagai partner mata untuk membaca, datang
dengan tenang. Wajahnya tak menunjukkan kemarahan, beliau menasehati kelas kami
untuk tidak mengulangi perbuatan itu lagi, 'Mengulangi perbuatan yang diperbuat
oleh salah satu teman kami?,' sahutku dalam hati.
Tiba-tiba namaku dan saudaraku dipanggil oleh salah satu
guru. Katanya kami disuruh untuk membawa tas sekalian, aku hanya mengira apa
yang terjadi hingga kami dipanggil bersama barang bawaan kami.
Seorang yang kami kenal, yang bekerja di rumah kami –aku dan
saudaraku- sebagai penjaga rumah kami, ia mengatakan sesuatu yang sedikit
mengejutkan.
Yang pertama, ayah kami telah tiada. Beliau sudah
dikuburkan, kami tidak dipanggil karena masih sekolah. Dan yang kedua adalah
kami harus keluar dari sekolah kami yang sekarang. "Mengapa?" tanya
saudaraku.
Penjaga rumah kami hanya mengatakan bahwa kami tidak layak
untuk berada di sekolah yang kelasnya membuat kerbutan. Aku heran, bagaiman
pihak rumah mengetahui masalah yang telah kelas kami buat, atau bisa dibilang
pelakunya hanya beberapa orang yang mengharuskan semua anggota kelas terkena
imbasnya.
Yeah, kami pulang pagi. Dan tak akan kembali ke sekolah ini
lagi. entah kemana lagi kami akan dipindahkan. Ya, ini bukan pertama kalinya
kami dipindahkan, pihak keluarga dirumah selalu tahu perkembangan pendidikan
aku dan saudaraku. Jika ada masalah dengan sekolah yang kami tempati maka
setelah sekolah, dirumah kami akan diberitahu surat pindah yang sudah
disiapkan. Dan sekolah yang baru kami tinggalkan beberapa menit yang lalu adalah
sekolah terlama yang pernah kami tempati.
Mungkin setelah sampai di rumah kami akan disuguhi jadwal
untuk diskusi keluarga. Yang jelas diskusi itu akan membahas tentang pendidikan
kami dan kepemimpinan keluarga yang masih kosong.
Langkah kaki kami sudah mencapai gerbang depan rumah,
kulihat rumah utama yang sedikit sepi, mungkin kebanyakan orang-orang sedang
berada di ruang diskusi. Yang kulihat dimata hanyalah saudara-saudari (seayah)
yang sedang menikmati waktu luang. Aku menebak semua anggota keluarga yang
sedang bersekolah diminta izin untuk mengikuti upacara kematian ayah kami.
Ditempat inilah kami tumbuh bersama anak dari selir-selir
ayah kami. Kebetulan kami -aku dan saudaraku- adalah anak dari selir pertama.
Sayangnya ibu kami sudah tiada saat kami menginjak belia. Jadi kemungkinan
besar kepemimpinan keluarga akan dipegang oleh salah satu dari aku dan
saudaraku.
Aku ingin memasuki ruang singgasana ayah, dimana ayah biasa
berdiam. Tidak boleh sembarang orang yang boleh masuk untuk menemuinya, hanya
orang tertentu yang boleh masuk. Biasanya yang boleh keluar masuk hanya
selir-selir ayah. Anak-anaknya pun juga dilarang untuk memasuki ruangan itu.
Anak-anak selir hanya boleh masuk saat mereka mendapatkan bunga tidur. Kemudian
menceritakannya pada Ayah.
Aku berkata pada saudaraku tentang keinginanku memasuki
ruangan ayah. Ia hanya mengangguk. Kemudian berjalan di depanku. Menuntun
jalanku menuju ruangan yang sangat-sangat membuatku penasaran.
Jalan –bisa disebut lorong- menuju ruangan itu sedikit
panjang, lorong tersebut hanya bernuansa putih dan beberapa meja berpot bunga
yang menghiasi tepi jalan tersebut.
Tangan saudaraku menyentuh pintu besar itu, membukanya
perlahan menampakkan ruangan yang tak seberapa besar yang bernuansa putih.
Dinding berwarna pucat, marmer lantai pun putih dan pilar-pilar porselen. Hanya
ada dua benda di ruangan ini. Kursi ayah yang mungkin muat untuk dua orang dan
meja bertutupkan kain merah pudar.
Tiba-tiba beberapa orang masuk ke dalam ruangan itu, dari
berbagai penjuru. Aku tak mengerti mengapa mereka bisa masuk. Seharusnya
saudaraku bisa menutup kembali pintu-pintu itu, karena ialah yang memiliki hak
tersebut, bisa dibilang karena dia lahir beberapa detik lebih dulu dari pada
aku.
Salah satu dari mereka ialah teman saudaraku. Mereka
membicarakan sesuatu yang tak ingin ku tahu. Tapi aku sedikit merasa kesal.
Seharusnya ruangan ini tidak boleh dimasuki oleh sembarang orang. Ayah sudah
menjaga ruangan ini agar tetap tak terjamah oleh sembarang orang, meskipun aku
tak tahu alasannya, tapi aku tetap menjaga amanah beliau.
"Tolong keluarkan mereka dari ruangan ini,"
pintaku dengan manunjuk pintu yang masih terbuka. Kemudian ia menutup pintu,
dan kembali ke ruangan ini, ruangan Ayah.
Disamping ruangan ini ada ruang terbuka yang ditumbuhi
beberapa tanaman dan ditengahnya terdapat gazebo yang bediri diatas air.
Biasanya para selir akan menikmati waktunya di tempat itu.
Aku berdiri tepat dibelakangnya, melihat punggungnya yang
tengah kokoh berdiri. Apakah ia marah? Hubungan kami memang tidak pernah akrab.
Tak saling bicara, kami memiliki pandangan hidup yang berbeda. Sifat otoriter
dari ayah mengalir di darahnya. Dan itu sungguh berkebalikan dengan pandanganku
tentang hidup bebas. Dari belakang aku bisa melihat telinganya yang memerah,
mengalihkan pandangannya dariku.
Tiba-tiba angin dingin yang tak tahu dari mana asalnya
merangkul tubuhku. Aku merasakan ada sesuatu yang membisik di pikiranku.
Bisikan itu membuatku sadar akan sesuatu. Aku tiba-tiba mengingat kejadian
harian yang beliau lakukan. Beliau selalu mengerjakan perintah tuhan dan
mendekatkan diri kepada-Nya. Diingatanku beliau tengah berbicara sendiri, tidak
ada seseorang di sekitarnya.
Aku mengingat seolah-olah kejadian itu pernah kulihat dengan
mataku sendiri. Padahal aku belum pernah berlama-lama untuk melihat aktivitas
ayah sehari-hari, jadi dari manakah aku mendapat ingatan ini? Aku mendapat
ingatan itu saat memasuki ruangan ini.
Tiba-tiba aku merasa sendiku tak mampu menyokong badanku,
aku melemah dan tersungkur dilantai. Mataku memanas dan cairan bening keluar
dari netra hitamku. Perasaan yang spontan ini, dingin, kekosongan, kesedihan,
kehilangan, bercampur menjadi satu. Angin dingin itu seperti memberitahuku
tentang kesedihan penghuni ruangan ini.
Saudaraku, tak bisakah engkau merasakan tanda-tanda dari
makhluk yang setiap harinya menemani ayah?
Kulihat ia semakin membusungkan dada. Masih berdiri kokoh,
tak merasakan tanda-tanda yang di berikan oleh penghuni ruangan ini. Tak
sedihkah ia? Tak bisakah engkau merasakannya? Perasaan yang menggantunng sangat
berat dalam dada.
Setelah ini akan ada perguliran roda kehidupan di keluarga
kita, dimana kepala keluarga kita akan diganti. Aku berharap bukan engkau
orangnya, tapi bukan juga diriku yang lemah. Karena masih ada ego yang
bersarang dalam dada kita.

0 comments:
Post a Comment