Summary :
Pemuda itu terlalu lemah. Hingga ia
tak mampu untuk membuka matanya dan menatap masa depan yang cerah.
Di tinggal orang tua sendirian adalah
hal yang menuntuk kesabaran yang tinggi. Juga semangat yang membara.
Dan sekarang ia ingin menjaga semangat
hidupnya yang sedang melemah, sangat redup. Agar dia bisa meraih apa yang
diimpikan dan mendoakan mereka.
-o-o-o-
-o-o-o-
Desclaimer : Karakter bukan punya saya. Saya hanya punya Ide cerita saja.
Judul : datanglah
Rate : K-T
Genre : Friendship and Family
-o-o-o-
Musim gugur telah habis waktunya. Daun-daun
senja berserakan di jalanan. Nyayian serangga malam ditelan dinginnya musim
dingin yang menjemput. Rintikan salju putih-dingin jatuh dari langit. Musim
gugur akan digantikan posisinya oleh musim dingin.
Lampu-lampu jalan mulai memamerkan cahayanya.
Membantu pejalan kaki dan pengendara terhindar dari kecalakan yang mengintai.
Terlihat di hari Sabtu malam yang mendung
ini, orang-orang sudah banyak yang memakai baju hangat, yang sebelumnya mereka
simpan di lemari. Dengan langkah cepat, mereka mencari tempat yang tepat untuk
menghangatkan diri di minggu akhir musim gugur ini.
Salah satu tempat yang banyak dijadikan
tujuan adalah restoran yang menyediakan minuman hangat. Seperti coklat, teh,
atau kopi yang diminum ditemani biskuit atau yang lainnya.
Tapi tidak untuk pemuda yang satu ini. Pemuda
bersurai baby-blue ini duduk diam di salah satu bangku stasiun Tokyo.
Wajahnya ia pasrahkan menghadap bumi. Menopang dagu dengan kedua telapak tangan,
siku yang tertumpu pada masing-masing paha. Di telinganya sudah bertengger
headset biru. Benda biru itu mengalunkan lagu berirama pelan.
Selama dua jam ia dengan posisi itu. Ia hanya
mendengarkan musik, sambil hatinya terus memohon. Kepalanya sudah pegal untuk
tegak. Jadi ia letakkan kepalanya di atas kedua telapak tangannya.
Syukurlah,
ia sudah mengenakan baju hangat. Pemuda kecil itu memakai t-shirt yang dibalut
oleh jaket putih dengan selingan hitam dan biru di pundak, tulisan kecil,
"seirin", juga ikut menghiasi bagian dada kiri jaketnya. Celana blue-jeans
melindunginya dari butiran salju yang memaksa masuk ke dalam stasiun.
Setidaknya ia terselamatkan dari kedingin karena baju hangatnya.
Suara
dengungan rel kereta terdengar dari arah barat. Semakin dekat kereta, ia
semakin menguatkan permohonannya.
Kereta
itu semakin dekat, kemudian berhenti tepat di tengah-tengah stasiun Tokyo.
Pintu kereta dengan suara yang tidak enak didengar pun terbuka, mengeluarkan
penumpang yang menyeruak keluar dengan berdesak-desakan.
Pemuda
itu ,membuka matanya, sekilas mata sky-bluenya menyapu penumpang yang
keluar dari kereta. Matanya dengan teliti mengamati setiap penumpang, dari
mulai yang berjalan biasa maupun yang berlari dengan tergesa-gesa.
Pintu
gerbong itu pun menutup. Telah selesai memuntahkan isinya di stasiun Tokyo.
Berlanjut menuju stasiun selanjutnya.
Seiring
menjauhnya kereta dari stasiun Tokyo, mata sky-blue itu kembali
tertutup. Menahan kekecewaan yang telah ia dapat sedari tadi.
Setiap
kereta yang ia lihat, tidak ada satupun yang mengeluarkan sosok itu. Sosok
hangat yang dia rindukan. Sosok yang pernah menyelamatkannya dari peristiwa
yang hampir saja merengut nyawanya.
Kekecewaan
itu sudah berulang sebanyak 22 kali. Yang berar ti ia sudah melihat kereta yang
memuntahkan penumpangnya disini. Itu ia dapatkan selama 2 jam. Dan ia akan
(berusaha) tetap berjaga disini-bangku pojok stasiun Tokyo- hingga dia datang.
Bibirnya
pucat sepucat kulitnya. Ia terlalu lama duduk di tempat terbuka seperti ini.
Tubuhnya telah dirangkul oleh dingin sejak dua jam yang lalu. Aku masih kuat
untuk menunggu, batinnya. Dan hatinya meyakini itu-bahwa ia kuat-.
Tiga
puluh menit berlalu. Remaja itu masih diam di bangkunya. Tapi keadaannya
sekarang lebih buruk dari pada sebelumnya. Keringat menetes dari pelipisnya.
Kepalanya seperti diputar dan dipukul dengan batu yang sangat keras. Angin malam yang membelainya menamabah
kesakitan yang ia terima.
Beberapa
detik kemudian, ia longsor dari pertahanannya. Tubuh kecilnya ringsut ke lantai
yang dingin. Bibirnya berucap satu kata sebelum kesadarannya hilang sepenuhnya,
"Datanglah…"
,
setelah ucapan lemah nya terucap, matanya pun menutup dengan perlahan.
-o-o-o-
0 comments:
Post a Comment